Abrasi Dadap Ancam Nyawa Ribuan Warga

663
Abrasi
ANCAM. Abrasi di Desa Dadap harus segera ditangani dengan serius oleh pemerintah pusat dan daerah karena ancam nyawa ribuan warga.

INDRAMAYU –  Abrasi yang terjadi di Desa Dadap Kecamatan Juntinyuat perlu penanganan serius, lantaran dampaknya bisa mengancam keselamatan nyawa dan perekonomian.

Ketua Fraksi Hanura-Nasdem DPRD Indramayu Ahmad Fathoni menyatakan, lantaran letak geografis Indramayu berhadapan langsung dengan laut Utara Jawa, potensi abrasi di sepanjang pantai Indramayu telah disampaikan ke Kementrian Kelautan dan Perikanan (Kemen-KP). Bukan hanya abrasi yang terjadi di Desa Dadap perlu segera ditangai, melainkan seluruh lokasi di sepanjang pantai di Kabupaten Indramayu.

“Sudah saya sampaikan disela-sela kegiatan Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi I ke Kemen-KP,” ungkapnya.

Meskipun begitu, pihaknya tidak menampik jika abrasi yang terus terjadi di Desa Dadap perlu penanganan secara cepat dan serius, untuk menyelamatkan nyawa masyarakat dan perekonomianya, serta potensi ekonomis yang ada di Desa Dadap.

“Selain melaut, banyak warga di Desa Dadap banyak berwirausaha mengelola ikan Terinasi,” bebernya.

Disampaikan Ahmad Fathoni, masalah abrasi disepanjang pantai Indramayu disikapi oleh Kemen-KP, yakni akan dilakukanya survei oleh tim dari pusat mengenai wilayah mana yang sudah kritis.
“Itupun akan dilakukan atas pengajuan dari Pemerintah Daerah ke Pusat, untuk dilakukan penangananya,” tandasnya.
Abrasi yang terjadi di Desa Dadap bukan hanya mengancam keselamatan 8000 jiwa maupun perekonomian warga, tetapi juga berdampak pada  merosotnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengingat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Dadap merupakan salah satu daerah  penyumbang pendapatan daerah terbesar.

Anggota DPRD Indramayu yang notabenya berasal dari Desa Dadap, Junedi, tidak menampik tanggul dan Break Water sudah pernah dibangun, namun fungsinya tidak berperan maksimal karena sudah lama tidak adanya pembangunan kembali maupun revitalisasi.
“Air laut masih tetap mengalir ke lingkungan warga, apalagi yangtempat tinggalnya belum dibangun tanggul, air bebas mengalir,” paparnya.

Yang paling membuatnya selalu khawatir, lanjut Junedi, hingga kini masih belum adanya upaya yang serius dari Pemerintah Daerah maupun pusat dalam mengatasi terkikisnya pantai, padahal dampak yang ditimbulkan tidak main-main, baik bagi daerah maupun masyarakat sendiri seperti, pelaku usaha bersiap-siap gulung tikar, tempat tinggal masyarakat tidak jelas dan ledakan pengangguran.

“Segala upaya sudah dilakukan, termasuk menyampaikan aspirasi tersebut dalam rapat, baik di Paripurna DPRD Indramayu maupun DPRD Provinsi Jabar,” terangnya.

Sebelumnya, salah satu masyarakat Desa Dadap Khaerun mengaku, abrasi pantai yang terjadi di desanya sudah sangat mengkhawatirkan,  air laut bebas  menggerus pasir, jarak bibir pantai dan pemukiman warga sudah didepan mata. Bahkan, dikatakannya, dari beberapa blok yang berhadapan langsung dengan laut, Blok Kemisan menjadi daerah  yang paling parah terkena abrasi, karena air laut sudah masuk  rumah warga.  (yan)