Rindu akan Kembangkan Satu Pesantren Satu Perusahaan

107
SALUT. Cagub Jabar Ridwan Kamil sampaikan kesalutannya terhadap Ponpes Al-Masthuriyah, Kabupaten Sukabumi yang mandiri mengelola usaha budidaya lele. ISTIMEWA/RAKYAT CIREBON
SALUT. Cagub Jabar Ridwan Kamil sampaikan kesalutannya terhadap Ponpes Al-Masthuriyah, Kabupaten Sukabumi yang mandiri mengelola usaha budidaya lele. ISTIMEWA/RAKYAT CIREBON

SUKABUMI – Kandidat Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengaku takjub melihat potensi budi daya ikan lele yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Masthuriyah, Kabupaten Sukabumi, saat berkunjung belum lama ini.

Ridwan Kamil menyatakan, budi daya ikan lele yang dilakukan pesantren yang memiliki 3000 santri itu adalah contoh yang baik yang bisa diduplikasi di pesantren lain. Kalau di Al Masturiyah yang dikembangkan adalah budi daya ikan lele, maka di pesantren lain bisa dilembangkan produk lain, misalnya memproduksi roti, sandal, pecil, keripik dan sebagainya.

“Dengan usaha ini, kalau setahun panen 5 sampai 6 kali saja, maka dalam setahun ada pemasukan uang hingga Rp100 juta. Ini kan bisa meningkatkan kemandirian pesantren,” kata Kang Emil sapaan akrab Ridwan Kamil.

Menurut Emil, tugas umaro adalah memperkuat perjuangan pendidikan pesantren. Dalam dialognya dengan para kiai, mereka minta dibantu masalah infrastruktur, berkomitmen membantu meningkatkan pendidikan pesantren, sering bersilahturahmi dengan para kiai dan mintalah nasihat para kiai.

“Nasihat ibu saya, dahulukan nasihat para kiai. Nah, ketika saya datang ke mereka, nasihat para kiai adalah maksimalkan bantuan kepada peningkatan pendidikan pesantren. Maka kalau takdirnya saya menjadi pemimpin Jabar, saya berkomitmen untuk cita-cita tersebut,” ujar Wali Kota Bandung yang peroleh ratusan perngargaan tersebut.

Dalam kunjungannya ke pesantren itu Emil juga berziarah ke makan pendiri pesantren Al-Masthuriyah, KH Muhammad Masthuro dan makam gurunya, Habib Syeh Bin Salim Al-Attas, di Kompleks Pesantren yang mengelola pendidikan mulai dari tingkat RA hingga STIA (Sekolah Tinggi Ilmu Agama) tersebut.

KH Abdul Azis Masthuro sebagai Putra Pendiri Pesantren Masthuro menyatakan, ikan lele itu merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk kemudian dibudidayakan secara berkelanjutan oleh pesantren. Seluruh santri dilibatkan dalam budi daya ikan tersebut.
“Dengan adanya budi daya ini, selain mengasah kemampuan santri dalam bidang budi daya ikan, juga melatih jiwa kewirausahaannya,” kata Abdul Azis.

Abdul Azis menjelaskan, budi daya ikan lele itu hasilnya dapat meningkatkan pemasukan bagi pesantren, seperti untuk penambahan operasional pesantren dan juga menambah modal budi daya ikan. Dari pengembangan usaha ini, pesantren bisa mandiri. Setiap panen dari 24 kolam menghasilkan Rp 20 juta. Lele di sini panen sekita 2 -3 bulan sekali. “Kemandirian dibutuhkan karena sebagian besar pesantren harus mampu menghidupi sendiri pesantrennya,” kata dia.

Lokasi budi daya lele berada di belakang pesantren. Budi daya dilakukan di kolam-kolam penampungan sebanyak 24 kolam. Selain di kolam belakang, tampak pula kolam-kolam ikan yang disebar di sekitar komplek pesantren. (vic)