Warga Cikedung Harap RSU Reysa Dioperasikan Kembali

267
RSU Reysa Cikedung
DIBUTUHKAN. Sejumlah warga mendatangi RSU Reysa Cikedung dengan harapan segera dioperasikan kembali.

CIKEDUNG – RSU Reysa Cikedung yang disegel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2016 lalu, keberadaannya masih diharapkan warga untuk dioperasikan kembali. Hal ini berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan agar lebih dekat dan bisa mengatasi kondisi darurat.

Menurut tokoh masyarakat setempat, H Munir (64), RS yang baru beroperasi beberapa bulan tersebut hingga kini masih sangat diharapkan agar bisa beroperasi kembali secepatnya. Sehingga warga yang membutuhkan penanganan medis secara cepat bisa mendapatkan pertolongan tanpa kendala jarak. “Keinginan agar dibuka secepatnya, ya masih berharap dibuka lagi rumah sakitnya. Enaknya masyarakat sini gak jauh, kalau lagi darurat juga kan dekat,” kata dia, Sabtu (21/4).

Sejak RS di Blok Tarikolot, Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung tersebut ditutup, masyarakat harus menempuh perjalanan sangat jauh untuk mendapatkan pelayanan medis di RSUD Indramayu, RS Bhayangkara Losarang, dan beberapa RS swasta di Indramayu. Bahkan tidak sedikit yang harus ke RS di wilayah Cirebon. “Walaupun sekarang itu bisa pakai BPJS, tapi masyarakat banyak mengeluh terutama yang ekonomi lemah. Kan harus sewa mobil,” ungkapnya.

Seorang warga di Blok Munjul, Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung, Sukarya (32) menuturkan, dioperasikannya kembali RSU Reysa diakui sangat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat Cikedung dan sekitarnya. Karena yang dirasakan pasca RSU Reysa ditutup, biaya untuk berobat sangat membebani. “Syukur sekali kalau (rumah sakit, red) mau dibuka lagi. Ini sejak ibu saya sakit harus dibawa berobat kemana-mana, sampai ke Cirebon. Kerasa buat sewa mobilnya, belum nebus obatnya. Berobatnya bisa dua kali kalau sebulan. Ke Indramayu kota saja dari sini jauh,” keluhnya.

Harapan serupa disampaikan warga lainnya, Muniah (65). Kelumpuhan yang dideritanya akibat terjatuh mengharuskannya berobat ke sejumlah rumah sakit maupun pengobatan alternatif. Dan setiap pengobatannya selalu saja terbebani biaya, baik untuk membayar di rumah sakit atau tabib maupun biaya transportasinya.

Atas kondisi itu, ia yang berharap segera mendapatkan kesembuhan mengaku senang jika RSU Reysa akan dibuka kembali. Karena tidak hanya jarak yang dekat, juga melayani masyarakat kurang mampu dengan tidak membebani biaya perobatannya. “Ya sukur kalau mau dibuka, berobatnya bisa dekat. Kan ada pelayanan pasien miskin,” kata dia.

Seperti diketahui, ditutupnya RSU Reysa oleh KPK pada September 2016 tersebut berkaitan dengan kasus yang menjerat mantan panitera di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Rohadi. Yakni kasus suap sidang artis Saiful Jamil yang kemudian dalam pengembangannya diduga ada kaitannya dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dan kini Rohadi masih menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin. (tar)