132 Dokter Gugur Melawan Covid-19, Ini Kata Doni Monardo

132 Dokter Gugur Melawan Covid-19, Ini Kata Doni Monardo

RAKYATCIREBON.ID-Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengatakan, perjuangan dokter dan tenaga kesehatan merupakan pekerjaan yang sangat berisiko di tengah pandemi.

Sampai saat ini, sudah ada 132 dokter yang gugur akibat terpapar Covid-19. Doni bilang, di tengah pandemi, dokter merupakan profesi yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Karena merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

“Dokter adalah aset penting bangsa kita, angat bernilai strategis. Kehilangan dokter akan membuat moril masyarakat kita juga berkurang,” katanya, saat diskusi virtual Wartawan Bertanya Doni Monardo Menjawab, di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Doni menegaskan, jumlah dokter di Indonesia sangat terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Secara keseluruhan, jumlah dokter ada 200 ribu, dokter spesialis 36 ribu, sedangkan dokter paru hanya 2.000.

Karena itu, masyarakat diminta disiplin menerapkan protokol kesehatan. Supaya bisa mengurangi angka kasus positif Covid-19 dan mengurangi beban kerja para dokter.

Menurutnya, melaksanakan protokol kesehatan itu sangat mudah. Hal itu tidak sebanding dengan perjuangan dokter, tenaga medis, dan tenaga kesehatan lain yang terjun menangani Covid-19.

Tapi, kata lulusan Akademi Militer (Akmil) 1985 ini, itu semua butuh komitmen seluruh komponen masyarakat untuk sama-sama mengendalikan Covid-19. Karena itu, patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan menjadi hal yang sangat penting.

“Kita hanya diminta untuk patuh terhadap protokol kesehatan,” tegasnya. Karena, jelas mantan Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) ini, hal ini memang imbauan tak cuma pemerintah, tapi juga para pakar, dan epidemiolog.

“Para dokter dan tenaga kesehatan lainnya telah berkorban begitu banyak. Tidak sedikit dokter yang telah gugur karena tugasnya merawat pasien. Termasuk juga pasien non-Covid-19, yang ternyata statusnya itu Orang Tanpa Gejala (OTG),” jelasnya.

Doni menggambarkan, satu orang dokter spesialis paru memiliki tanggung jawab terhadap 135 ribu nyawa warga negara Indonesia.

Sehingga kehilangan satu dokter paru, akan sangat berpengaruh dalam penanganan pandemi. “Sebanyak 2.000 dokter paru, melayani 270 juta warga negara kita.

Artinya, satu orang dokter paru harus melayani 135 ribu warga negara kita. Kehilangan satu dokter paru, berarti kehilangan pelayanan untuk 135 ribu warga negara kita,” ungkapnya.

Karena itu, jenderal berdarah asli Minang kelahiran Cimahi, Jawa Barat ini menyampaikan, Satgas Covid-19 saat ini tengah melakukan berbagai cara, demi melindungi dokter dan tenaga kesehatan.

Salah satunya, menjamin setiap dokter harus di-swab test satu minggu sekali untuk mengecek keadaannya. Sementara, Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat hingga Jumat, (9/10) total 132 dokter telah meninggal akibat Covid-19.

Tenaga kesehatan terus berguguran selama pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung delapan bulan ini di Indonesia.

“Tim Mitigasi PB IDI mengumumkan, selama minggu pertama Oktober 2020, sudah ada 5 dokter meninggal. Sehingga total ada 132 dokter wafat akibat Covid,” sebut Tim Mitigasi PB IDI, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Dari 132 dokter yang meninggal, ada 68 dokter umum, termasuk di dalamnya 4 guru besar, 62 dokter spesialis dengan 5 guru besar, dan 2 dokter residen.

Kematian dokter terbanyak berasal dari Jawa Timur sebanyak 31 dokter. Lalu Sumatera Utara, 22 dokter. DKI Jakarta, 19 dokter. Jawa Barat, 11 dokter dan Jawa Tengah, 9 dokter. Lalu Sulawesi Selatan, 6 dokter. Bali, 5 dokter.

Sumatera Selatan, 4 dokter. Kalimantan Selatan, 4 dokter. Aceh, 4 dokter. Riau, 4 dokter. Kalimantan Timur, 3 dokter. Kemudian Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, masingmasing mencatat 2 kematian dokter.

Selanjutnya Banten, 1 dokter dan Papua Barat 1 dokter. Dalam keterangan tersebut, IDI juga menyampaikan salah satu penyebab kematian pada dokter adalah karena lonjakan pasien positif Covid-19 tanpa gejala (OTG).

“Lonjakan pasien Covid, terutama OTG, yang mengabaikan perilaku protokol kesehatan di berbagai daerah juga meningkat,” tuturnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!