Alat Tempur Jadul Masih Dipakai

8
Usia Senjata Lebih Setengah Abad, Dioperasikan Secara Manual 

SUMBER– Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan ulang tahunnya, kemarin. Di usia yang sudah lebih dari setengah abad tepatnya 70 tahun, seharusnya sudah mapan. Baik dari segi kesejahteraan prajurit dan kesiapan alat utama sistem persenjatan (alutsista)nya.  Namun, sampai saat ini tidak sedikit alutsista yang dibeli dari luar negeri dan sudah berusia puluhan tahun, tetap dibertahankan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

alat tempur tni
Alat tempur TNI. Foto : Ahmad Asari/Rakyat Cirebon

Padahal, kondisi alutsista zaman dulu atau jadul tersebut dapat membahayakan nyawa dari prajurit yang memakainya.  Belum lama ini tragedi jatuhnya pesawat Hercules di Medan yang menewaskan lebih dari 100 orang yang terdiri dari prajurit dan warga sipil membuat banyak orang bertanya-tanya, masih layak kah alutsista TNI?  Dari sejumlah kejadian yang menewaskan prajurit itulah kemudian muncul rencana pemerintah melakukan pengadaan alutsista baru bagi tiga kesatuan TNI secara bertahap.

Alutsista tua hampir digunakan di semua kesatuan, salah satunya Batalion Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse) Cirebon.  Salah satu alutsista yang berfungsi untuk menjaga pertahanan udara telah berusia 53 tahun. Dan sampai saat ini, senjata jadul itu masih digunakan kesatuan tersebut.
Alat tempur yang didatangkan dari Rusia tahun 1962 itu menjadi alutsista kebanggaan Yon Arhanudse Cirebon.

Alat tempur yang diberi nama Meriam 57 MM tanpa AKT tersebut memiliki spesifikasi seperti cepat awal proyektil 1000 m/detik, berat angkut 4875 kilogram, berat tempur 4775 kilogram, jarak capai maksimum 12.000 meter, jarak tembak efektif 70 ppm dan panjang 8600 mm dengan jumlah awak 8 orang yang memiliki peran masing-masing. Lantaran usianya yang sudah cukup tua, alat tersebut hanya dapat digunakan dengan cara manual.

Artinya, untuk menghancurkan  sasaran, harus diperhitungkan secara manual. Padahal pada saat alat tersebut didatangkan awalnya menggunakan sistem elektronik. “Kita kendalikan sendiri, kalau elektronik disambungkan ke kabel dan bisa mengunci sasaran otomatis,” ungkap salah satu operator MER 57 MM, Sertu Ikbal, saat ditemui usai upacara peringatan HUT TNI Ke-70 di Lapangan Ranggajati kepada Rakyat Cirebon, kemarin (5/10).

Dijelaskannya, jika melihat perkembangan militer negara lain, Indonesia kalah tertinggal.
Namun, ketertinggalan tersebut tidak membuat para prajurit putus asa. Berbagai latihan rutin harus diikuti oleh berbagai kesatuan, hal itu untuk mengasah naluri perang prajurit. “Sekarang kan pesawat tempur pada super canggih, sangat sulit menjadi sasaran tembak alat ini. Namun paradigma kita ubah, bukan amunisi kita yang mengenai pesawat, tapi pesawat yang menabrak amunisi kita. Dengan cara apa? Yakni dengan menembakan sejumlah meriam secara bersamaan dan acak,” tegasnya.

Sementara untuk perawatannya sendiri, diakui Sertu Ikbal dengan sistem kanibal.
Artinya, pada saat salah satu alutsista mengalami kerusakan pada bagian tertentu, maka akan diperbaiki dengan mengambil bagian dari alutsista lain. Hal itu hampir diterapkan pada semua kendaraan tempur.

“Peremajaan sudah dilakukan, namun tidak bisa semuanya diganti secara langsung. Artinya bertahap dulu, daerah mana yang diutamakan dan kesatuan mana. Kan ada rencana jangka pendek dan panjang terkait pengadaan alutsista, saya yakin kedepan alutsista kita juga mencapai standar,” jelasnya. Sementara itu, perayaan HUT ke-70 TNI yang digelar di Lapangan Ranggajati Sumber, berlangsung dengan khidmat.

Sejumlah kesatuan dari unsur TNI dan Polri dan ratusan siswa turut dalam upacara tersebut. Bahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki sejumlah kesatuan dipajang.
Alat perang yang dipajang diantaranya, meriam kaliber 57 mm milik kesatuan Yon Arhanudse, peralatan menyelam milik TNI AL dan sejumlah senjata laras panjang dan pendek yang digunakan TNI pada saat menjalankan misi.

Bupati Cirebon, Drs H Sunjaya Purwadisastra MM MSi saat ditemui usai memimpin upacara menjelaskan, jati diri TNI sesungguhnya dari rakyat untuk rakyat dan bersama-sama dengan rakyat. Artinya, TNI tidak boleh melakukan hal-hal yang merugikan rakyat. “Seperti yang Pak Presiden Jokowi bilang pada sambutannya. TNI itu dari rakyat, sehingga TNI jangan sampai ada jarak dengan rakyat. Kebersamaan dan keakraban dengan rakyat harus terus dibangun dan dipertahankan,” tandasnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, mengapresiasi sejumlah program TNI yang sudah secara langsung bersentuhan dengan rakyat, semisalprogram TNI masuk desa atau TMD. “Bukan saja mempertahankan NKRI, tapi TNI terus berupaya mendekatkan diri dengan rakyat. Bahkan TNI ikut membantu membangun jembatan, membersihkan sungai dan pembangunan lainnya,” jelas Sunjaya.
Di tempat yang sama Kapolres Cirebon, AKBP Sugeng Hariyanto mengatakan, untuk menciptakan situasi kemanan yang sehat dan kondusif, perlu adanya kerjasama antar aparat, baik aparat pemerintahan dan keamanan.

Apabila ketiga pilar tersebut dapat bekerjasama maka, kata Sugeng, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) akan kondusif. “Ya kita berharap di HUT ke-70 TNI ini kita dapat lebih bersinergi lagi,” paparnya. Untuk menghindari adanya perselisihan antara Polri dan TNI yang kerap terjadi di sejumlah daerah, Sugeng akan mengupayakan koordinasi antar komandan kesatuan dan wilayah. “Kita harus komit siapapun yang melakukan pelanggaran, kita harus komit untuk dilakukan pembinaan dan bahkan memberikan sanksi,” terangnya. (ahmad asari)

BAGIKAN