Anggaran Naik Serapan Tenaga Kerja Rendah

Rasio Belanja dan Pertumbuhan Konstruksi Dinilai Tidak Imbang

159
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Iwan Kartiwan
JELASKAN. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Iwan Kartiwan  saat menjelaskan  ketimpangan rasio anggaran  pembelanjaan insfrastruktur dengan pertumbuhan usaha konstruksi nasional saat ini.

KEJAKSAN –   Ketua Umum Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Iwan Kartiwan  menegaskan, rasio  belanja insfrastruktur dari dana DIPA dengan pertumbuhan usaha konstruksi nasional tidak imbang.

Ketimpangan itu dilihat dari tidak berbanding lurusnya antara  peningkatan anggaran belanja insfrastruktur dengan jumlah tenaga kerja konstruksi.  Sebelumnya, dari anggaran belanja Rp130 triliun bisa  menyerap 6,5 juta tenaga konstruksi.

“Hari ini Rp400 triliun (anggaran belanja konstruksi, red) tapi pertumbuhan tenaga kerjanya cuma 7,5 juta,” ungkap Iwan kepada Rakyat Cirebon, saat menghadiri acara di Musyawarah Daerah Gapeksindi Jawa Barat di Kota Cirebon, kemarin.

Ia menjelaskan, tidak imbangnya rasio besaran anggaran belanja dengan pertumbuhan usaha konstruksi dipicu kuatnya pengaruh BUMN di bidang konstruksi dalam penyelenggaraan proyek pembangunan. Dia menuding, BUMN melahap terlalu banyak anggaran pembangunan.

Sehingga, pengusaha konstruksi skala kecil yang tersebar  di daerah-daerah hanya kebagian sisanya saja. Itu besarannya tidak seberapa. Nilai proyeknya berkisar Rp20 miliar sampai Rp100 miliar saja.  Sedangkan proyek-proyek strategis dengan anggaran lebih besar masih dicengkram BUMN.