Awas, Pelajar bisa Terjerumus Valentine Day

33
MAJALENGKA –  Kaum muslimin seyogyanya tidak merayakan valentine day yang biasanya selalu dimeriahkan oleh kalangan remaja zaman sekarang pada 14 Februari. Bahkan, dari pantauan sejumlah toko swalayan, cokelat dan kondom mengalami penjualan yang cukup banyak.
pelajar persis demo anti valentine day
Pelajar Persis demo anti valentine day. Foto: Herik/Rakyat Cirebon
Jika hanya sekedar cokelat, hal itu masih bisa ditolerir. Namun, jika sudah menjurus pada pembelian kondom berbagai merek hal tersebut dinilai sudah keterlaluan. Karena prilaku yang mengikuti orang-orang barat besar kemungkinan digunakan untuk berhubungan pergaulan bebas.
Aktivis Majalengka, Andika menyerukan, agar para remaja pelajar tidak terjerumus pada kehidupan barat yang memperingati valentine day dengan cara bergaul bebas.
“Para pelajar remaja hendaknya tidak terjerumus pada ajaran barat, yang mengikuti perayaan 14 Februari dengan berkencan dan berbekal kondom, hal itu sudah masuk ajaran sesat, dan bukan bagian dari Islam,” ujarnya, Minggu (12/2).
Andika mengatakan, budaya pergaulan bebas dalam Islam ada batasan yang harus dipenuhi, yakni hanya seputar komunikasi lisan. Tidak dalam behubungan fisik ataupun badan. Oleh karenanya, gaya dan cara berpikir sekularisme demokrasi di negeri ini harus ditinggalkan.
“Para remaja harus sadar diri, bahwa pergaulan bebas yang dimaksud, hanya sebatas bertukar pengetahuan, bukan dengan cara berhubungan badan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan aktifis baca, Mahdi Surahman. Ia juga tidak setuju dengan gaya pergaulan anak muda masa kini, yang ramai-ramai membeli kondom atau coklat hanya sekedar ikut-kutan atau menuruti kehendak sang pacar untuk merayakan valentine day.
“Ada cara yang lebih baik selain harus merayakan valentine dengan gaya barat. Dan sebetulnya hari kasih sayang tidak perlu diperingati, karena hal itu sebagai muslim harus dipraktekan setiap menit, setiap hari, tidak harus hanya 14 Februari dan setahun sekali,” ujarnya. (hrd)
BAGIKAN