Bantuan dari KKP Dianggap Mubazir

INDRAMAYU – Sejumlah bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dianggap mubazir. Pasalnya, bantuan untuk pelaku usaha kerupuk ikan tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

kementrian kelautan perikanan
Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Doc.kkp.go.id

Bantuan itu berupa sarana dan prasarana logistik tidak dapat dipergunakan secara maksimal, karena minimnya tenaga ahli. Akibatnya, target dan capaian dalam mempersiapkan ekspor hasil olahan kelautan belum berjalan sesuai harapan.

Kegiatan peningkatan mutu dan pengolahan hasil perikanan dan kelautan, sebesar Rp337,3 juta yang dilaksanakan oleh pihak ketiga di Desa Kenanga Kecamatan Sindang untuk satu paket mesin offset/rotogravure. Namun alat yang dimaksudkan tidak dapat digunakan sebagaimana harapan anggota kelompok.

Selain itu, dana bantuan dari APBN Tugas Perbantuan tahun 2014 dari Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebesar Rp293,9 juta untuk pengadaan alat pemotong kerupuk sebanyak 9 unit diperuntukan bagi 9 Unit Pengelola Ikan (UPI) dalam rangka peningkatan produksi kerupuk ikan, tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bantuan alat dari APBD Indramayu sebesar Rp337,3 juta untuk pengadaan rotogravure/offset hingga sekarang belum dipergunakan karena alat tersebut tidak dilengkapi dengan operator, termasuk bantuan 9 alat potong kerupuk ikan yang tidak sesuai dengan kebiasaan pelaku usaha.

“Pengrajin kerupuk masih menggunakan cara-cara manual dalam mengolah kerupuk ikan,” kata Surneti, 39 salah satu pengrajin kerupuk kepada Rakyat Cirebon. Menanggapi hal itu, Kasi Pengolahan Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanla) Kabupaten Indramayu, Suwarie Firdaus, membenarkan jika bantuan yang berasal dari APBD Indramayu tahun 2014 belum dipergunakan dengan baik, karena sedang proses pengadaan operator untuk jalannya alat tersebut.

“Tetapi, untuk pengadaan dari APBN-P dilakukan oleh pengadaan pusat, jika barangnya tak sesuai akan diperbaiki,” tuturnya. Bantuan tersebut dilakukan karena hasil pengolahan ikan dari Kabupaten Indramayu kini menembus pasar internasional yakni menyuplai untuk kebutuhan negara-negara asia. Meskipun produknya diminati masyarakat luar negeri, namun para pengusaha lokal belum sanggup untuk memenuhinya.

Hasil olahan ikan berupa kerupuk ikan dan kerupuk udang dari Indramayu sangat diminati oleh pihak luar. Selain memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, ternyata masyarakat luar negeri juga sudah mulai tertarik. Saat ini para pengusaha kerupuk tengah dilakukan pelatihan membuat kemasan guna sampel untuk ekspor ke luar negeri.

Produksi perikanan Kabupaten Indramayu mencapai 376.818 ton dengan nilai mencapai Rp5,5 miliar  yang dikelola oleh 95.376 orang pelaku usaha perikanan dan kelautan.  Sedangkan produksi olahan hasil perikanan sebesar 36.525 ton yang diantaranya adalah kerupuk ikan dengan produksi lebih dari 10.000 ton dalam setahun yang dihasilkan oleh para pengolah kerupuk. (laz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!