Batik Mendunia, Perajin Masih Merana

6
Hasil Karya Dihargai Murah, Promosi dan Penghasilan Minim 

HARI batik nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober semestinya dapat memberikan angin segar kepada para perajin batik. Namun, dalam praktiknya, perajin masih terus dibayangi oleh penghasilan yang kecil jika dibandingkan dengan nilai jual batik apabila sudah masuk ke showroom milik perorangan.

perajin batik cirebon
Perajin batik Cirebon. Foto : Ahmad Asari/Rakyat Cirebon

Kondisi ini jelas menjadikan nasib perajin yang tidak pernah mengalami kemajuan. Padahal, jika mereka diberikan fasilitas memasarkan sendiri produk batik yang dibuatnya, maka bukan tidak mungkin kesejahteraan para perajin akan ikut terdongkrak.Dibandingkan dengan harga batik tulis di showroom yang bisa mencapai jutaan rupiah, perajin hanya diberi harga murah oleh para pengusaha.

Sehingga, para perajin tidak bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi untuk setiap goresan di kain batik.Upaya bukan tidak dilakukan oleh para perajin yang memang menggantungkan hidupnya dengan membatik. Mulai dari melaporkan kepada pemerintah daerah, hingga mencoba memasarkan sendiri hasil karyanya. Tetap saja, perajin merasa timbal balik yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Untuk membuat satu kain batik tulis saja misalkan, perajin bisa mencapai waktu enam bulan waktu pengerjaan dengan semua tahapan dilalui. Apabila dibandingkan nominal yang diperoleh saat menyerahkan kain batik itu ke pengusaha, maka bisa dikatakan perajin hanya mendapatkan upah pengganti selama enam bulan saja.Meskipun saat ini pemerintah daerah sudah memberikan fasilitas kios gratis kepada perajin di Pasar Batik Trusmi, namun perajin masih merasa belum maksimalnya promosi yang diberikan.

Imbasnya, Pasar Batik Trusmi kalah pamor dengan beberapa showroom yang ada di kawasan Batik Trusmi yang terletak tidak jauh dari Pasar Batik Trusmi.Bukan hanya itu saja, permodalan bagi perajin masih dirasakan memberatkan. Pasalnya, beberapa bank yang bisa memberikan pinjaman, menentukan harus adanya agunan yang diberikan penjual kepada bank.

Padahal, perajin bisa dikatakan tidak memiliki sesuatu apapun untuk dijaminkan sehingga imbasnya perajin tidak kunjung mendapatkan permodalan.Salah satu perajin batik trusmi senior, Masnedi menjelaskan, selama ini kondisi batik jauh lebih baik jika dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, baiknya kondisi itu tidak memberikan dampak yang signifikan kepada perajin.

“Memang benar apa yang disebutkan itu merupakan kendala utama. Kalau ditanyakan kondisi batik secara keseluruhan, masih sangat baik karena masyarakat terlihat lebih interest terhadap batik itu sendiri,” jelasnya kepada Rakyat Cirebon saat ditemui di kediamannya, kemarin.Masnedi lantas bercerita, para perajin batik di Trusmi lebih memilih merugi jika dibandingkan dengan meninggalkan pekerjaannya untuk membatik.

Hal itulah yang membuat batik masih terus eksis hingga saat ini. “Saat ini banyak showroom batik tapi bukan berarti perajin ikut menikmati hasilnya. Penghasilan perajin ironi bisa dikatakan kecil dan yang mendapatkan keuntungan adalah pengusaha,” tambahnya.Walaupun tergolong berpenghasilan kecil, Masnedi menyebutkan, jumlah perajin masih cukup banyak untuk di wilayah Cirebon. Lebih dari 200 orang pengrajin, masih dapat ditemukan dan terus berkarya.

Kendala lainnya yang dihadapi oleh para perajin, kata Masnedi, adanya batik dari luar daerah yang memiliki harga jual lebih murah. Dengan kondisi demikian, tak jarang para pembeli lebih memilih batik denga harga murah meskipun batik itu bukanlah batik tulis.Dalam kesempatan ini juga, Masnedi mengungkapkan fakta menarik dimana peminat batik tulis Cirebon lebih banyak adalah warga negara asing

 “Batik itu ada tiga jenis yaitu tulis, cap dan printing atau sablon. Batik yang banyak beredar saat ini adalah batik printing yang diproduksi dari luar Cirebon. Yang lebih memilih batik tulis perajin adalah turis asing yang rutin kesini,” tuturnya.

ANDALKAN MEGA MENDUNG
Jika kita kembali pada motif batik asli cirebonan, Masnedi menyebutkan ada sekitar 300 motif. Akan tetapi, motif-motif selain mega mendung memang sudah susah ditemukan di luaran karena sedikitnya pengetahuan mengenai motif.Dengan adanya hari batik nasional ini, Masnedi berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon dapat membentuk suatu organisasi untuk menyeleksi motif yang memang asli dari Cirebon.

“Pernah ada yang menyerahkan seratusan motif batik yang katanya asli Cirebon. Tapi, begitu saya lihat, mohon maaf hanya beberapa motif saja yang memang mirip dengan motif batik Cirebonan. Sisanya cenderung asal dibuat saja,” tegasnya.Meskipun demikian, Masnedi juga menolak apabila motif batik cirebonan akan dipatenkan. Alasannya, motif batik cirebonan ini merupakan warisan leluhur yang saat ini sudah tidak ada sehingga tidak boleh diklaim oleh siapapun juga.

“Kalau memang mau melindungi, maka nanti serahkan saja motif asli cirebonan kepada pemerintah pusat agar tidak ada negara lain yang mengklaim kalau satu motif batik milik mereka,” katanya.
Sementara itu, salah seorang perajin batik tulis di Desa Ciwaringin, Nur Alifah (45) mengatakan, hari batik nasional merupakan bentuk pengakuan kain batik sebagai buah karya dan kebudayaan Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Alifah ini berharap, batik lebih dikenal lagi di manca negara.
Menurut Alifah, kendala saat ini yang dirasakan adalah memang terkait promosi yang terbatas pada ide masing-masing perajin dengan melalui internet.Sedangkan, kata Alifah, perajin juga membutuhkan promosi yang lebih luas.

“Promosi kami sebatas melalui internet. Kami juga sering ikut dalam kegiatan pameran yang diselenggarakan di luar daerah,” katanya.Sedangkan perajin lainnya, Atak mengatakan, batik tulis kalah dengan batik printing atau batik cap yang menggunakan tinta. Sedangkan, lanjut Atak, batik yang sesungguhnya adalah hasil dari kerajinan melalui tangan-tangan terampil yang membentuk pola dengan menggunakan malam. Atak ingin ada promosi batik tulis yang lebih luas lagi. “Jangan sampai batik tulis kalah dengan batik printing,” ungkapnya.  (yoga yudishtira/casmudi)

BAGIKAN