Bekali Kemampuan hingga Beri Bantuan Modal Tanpa Bunga

Menelusuri Program CED bagi Buruh Migran di Indramayu

Indramayu dikenal sebagai lumbung Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun Tenaga Kerja Wanita (TKW). Hal itu mengundang kepedulian banyak pihak untuk turut membangun Sumber Daya Manusia (SDM), terutama bagi kalangan TKW maupun mantan TKW.

tenaga kerja indonesia indramayu
Peserta CED. Ist/Rakyat Cirebon

DI ANTARA yang peduli dengan kondisi TKI dan TKW adalah Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PGSA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Rosita Tandos.  Ia belum lama ini menjalankan Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat atau Community Economic Development (CED) Program di Desa Bondan Kecamatan Sukagumiwang Kabupaten Indramayu.

Program ini difokuskan pada penguatan partisipasi perempuan dalam peningkatan ekonomi keluarga, di kalangan mantan TKW.  Dalam program itu, para perempuan, terutama mantan TKW, diberikan training atau pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbisnis dan mikro-kredit atau simpan pinjam.

“Selain para mantan buruh migran, mereka yang masih menetap sementara untuk kembali bekerja di luar negeri juga dilibatkan dalam program ini,” ungkap Rosita kepada Rakyat Cirebon.

Ia menjelaskan, program CED diawali dengan kegiatan pelatihan angkatan I untuk meningkatkan keilmuan dan keterampilan para TKW maupun mantan TKW dengan melibatkan sekitar 50 peserta.

Hadir sebagai pemateri pembuka, Amiruddin Kuba MA, dosen Ekonomi Syariah UIN Surabaya. Pria yang juga kandidat doktor di bidang Ekonomi Syariah ini membawakan materi ”Strategi dan Kiat-Kiat Memulai Usaha”.

“Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana memulai dan mengembangkan bisnis, informasi tentang para TKW yang telah sukses dan mandiri setelah bekerja di luar negeri, serta berbagai macam keterampilan bisnis rumah tangga. Misalnya, pembuatan kerupuk, bakso, kue, coklat, tempe dan oncom,” jelas Rosita.

Tak hanya diberikan pelatihan, kata Rosita, melalui program itu pula para mantan TKW diberikan bantuan kredit modal usaha tanpa bunga.  “Tujuannya untuk menjalankan bisnis sesuai yang mereka minati,” katanya.

Rosita menyadari, pelaksanaan program CED dapat  berjalan sukses tidak lepas dari peran penting masyarakat di Desa Bondan yang turut terlibat secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan itu. “Beberapa pemuda pemudi di Desa Bondan juga menjadi bagian dan tim pendamping yang terus mengawal pelaksanaan program ini,” ujarnya.

Rosita menargetkan, tak hanya Desa Bondan yang bisa disentuh program CED, melainkan desa-desa lainnya di Indramayu.  Di masa mendatang, program CED diharapkan dapat menjadi program unggulan atau percontohan dan solusi bagi pemberdayaan mantan TKW. “Serta dapat diterapkan di daerah lain di seluruh Indonesia,” kata dia.

Untuk diketahui, Rosita Tandos tercatat sebagai alumni Curtin University Perth Western Australia.  Ia mendapatkan dukungan dari pemerintah Australia melalui Australian Development Scholarships (kini bernama Australia Awards–Indonesia).

Ia menyelesaikan pendidikan tentang pengembangan masyarakat (community development) dan mengaplikasikan keilmuannya melalui program CED tersebut.
Perhatian mendalam Rosita terhadap isu buruh migran perempuan, khususnya yang bekerja pada ranah domestik atau rumah tangga, mendorong dirinya untuk terus mengkaji dan melakukan aksi bersama para TKW maupun mantan TKW agar dapat menciptakan konstribusi yang signifikan pada diri mereka, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Sementara itu, Kuwu Desa Bondan, Marpu mengapresiasi pelaksanaan program CED di desanya. Bahkan, program itu secara resmi dibuka oleh dirinya pada 12 September 2015. “Kami tentu mengapresiasi program ini. Karena untuk pemberdayaan masyarakat, terutama TKW maupun mantan TKW,” kata Marpu. (nurul fajri/opl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!