Bersiap Akreditasi Pertama, Perpustakaan IAIN Targetkan A

34
PERPUSTAKAAN IAIN. Suasana di ruang koleksi Perpustakaan IAIN. Terlihat sejumlah mahasiswa tengah asyik mencari dan membaca buku koleksi. (Suwandi/Rakyat Cirebon)

RAKYATCIREBON.ID – Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon menyambut visitasi akreditasi untuk pertama kalinya pada 2021. Serangkaian persiapanpun dilakukan sejak jauh-jauh hari demi mendapatkan nilai akreditasi A.

Kepala Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr Yayat Suryatna MAg mengungkapkan, ada 9 instrumen akreditasi. Beberapa instrumen sudah terpenuhi. Meski di beberapa yang lainnya masih banyak kekurangan. “Kami berusaha penuhi sesuai instrumen yang dibutuhkan,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon saat ditemui di ruangannya, Selasa (14/1).

Yayat mengatakan, kesembilan instrumen itu di antaranya layanan, kerja sama, koleksi, pengorganisasian bahan pustaka, SDM, gedung dan sarana prasarana, anggaran, manajemen dan perawatan koleksi buku.

“Untuk pelayanan kepada pemustaka kami sudah 5 hari dari Senin sampai Jumat dari jam 07.30 sampai 16.00 WIB,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon.

Kemudian di sektor kerja sama, Perpustakaan IAIN sudah menjalin kerja sama dengan Perpustakaan seluruh PTKIN yang tergabung dalam Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS). Juga terintegerasi dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas). “Juga dengan Perpustakaan Daerah dalam berbagai kegiatan,” ucap Yayat.

Soal koleksi, Perpustakaan IAIN sudah punya 74 ribu eksemplar buku dengan diversifikasi judul sebanyak 24 ribu. Rasio koleksi buku dengan mahasiswa kampus pun sudah menenuhi standar. Yakni melebihi 10 persen minimal dari total 10 ribu mahasiswa aktif.

Dari segi pengorganisasian bahan pustaka, Perpustakaan IAIN punya koleksi jurnal, buku teks, buku bacaan fiksi dan non fiksi, buku tando dan koleksi buku khusus di Cirebon Corner dan BI Corner.

“Nah untuk SDM memang kami masih kurang. Baru punya 4 pustakawan. Sementara rasio idealnya 1 pustakawan berbanding 500 mahasiswa. Sehingga idealnya 20 pustakawan,” kata dia.

Begitu juga untuk gedung dan sarana prasarana. Perpustakaan IAIN memang sudah punya gedung sendiri. Namun seiring bertambahnya jumlah mahasiswa, gedug tersebut terbilang kurang ideal. “Soal penganggaran, dengan kapasitas 74 ribu buku dan 10 ribu mahasiswa harusnya dana yang dibutuhkan Rp5 miliar. Tapi yang terealisasi hanya ratusan juta,” katanya.

Terakhir, kata Yayat, ialah manajemen. Perpustakaan IAIN sudah punya manajemen khusus dalam pengelolaannya. Yang terdiri dari kepala dan bidang-bidang di bawahnya. (wan)

.

BAGIKAN