Biro Tour and Travel Harus Punya Terobosan

63
CIREBON – Kehadiran Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) hingga kini belum berdampak banyak bagi puluhan biro tour and travel di Wilayah Cirebon. Dibutuhkan keseriusan yang lebih dari para pengelola tempat wisata.

tol cipali
Tol Cipali. Image by radarcirebon.com

Di Wilayah Cirebon, sedikitnya ada 27 biro tour and travel. Meski akses Jakarta-Cirebon kini dianggap lebih mudah dengan keberadaan Tol Cipali, permintaan wisatawan luar daerah terhadap biro tour and travel asal Cirebon justru mengalami penurunan. Mereka masih kalah saing dibanding biro tur dan perjalanan dari luar kota, khususnya Jakarta.

“Order dari luar daerah Cirebon turun sekitar 30 persen. Biro tour and travel dari Jakarta sampai sekarang masih lebih dominan ketimbang biro tour and travel dari Cirebon, ini menjadi hambatan,” ungkap pengurus Gabungan Pengusaha Tour and Travel (Gapitt) Wilayah Cirebon, Roni Agus Bahtiar. Dari segi wisata, kata dia, wilayah Cirebon memiliki potensi besar. Batik dan kuliner merupakan wisata yang hingga kini mendominasi minat wisatawan luar kota.

Sayang, rata-rata biro tour and travel di Cirebon tak banyak memiliki konsep lebih baik untuk menjemput bola. Menurut Roni, kebanyakan biro tour and travel Cirebon memilih menunggu bola daripada membuat konsep yang mengundang ketertarikan wisatawan luar daerah untuk datang ke Cirebon lebih tinggi.

Pihaknya pun di sisi lain menyayangkan masih kerap dijumpainya hal-hal yang mengecewakan wisatawan luar daerah pada tempat wisata yang mereka datangi. Semisal, lanjutnya, banyaknya peminta-minta di komplek Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

“Banyak tamu yang akhirnya komplain kepada kami karena peminta-minta di sana banyak, setelah memberi yang satu ada lagi peminta lain yang datang. Apalagi terkadang mereka seolah dipaksa untuk memberi,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga memandang perlu adanya pembenahan pada fasilitas-fasilitas di tempat-tempat wisata di Cirebon agar lebih memadai. Dia mencontohkan, ketersediaan lahan parkir pada tempat wisata sebaiknya lebih diperhatikan. Terkadang, lahan parkir yang disediakan kerap tak menunjang sehingga memacetkan lingkungan sekitar objek yang mereka datangi.

“Pada hal-hal seperti ini, para pengelola tempat wisata diminta lebih serius agar tak mengecewakan wisatawan, bahkan sampai berdampak pada sikap kapok datang ke Cirebon. Selain batik di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, maupun aneka kulinernya, wisatawan luar daerah pun menyukai kerajinan khas Cirebon, salah satunya kerang di Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon,”kata dia. (jri)

BAGIKAN