Christiaan Snouck Hurgronje ‘Telik Sandi’ Hindia Belanda

Christiaan Snouck Hurgronje ‘Telik Sandi’ Hindia Belanda

RAKYATCIREBON.ID-Belakangan ini, nama Snouk Hurgronje populer di telinga masyarakat Cirebon

Siapa Snouck Hurgronje?

Ia sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda, tepatnya penasihat urusan pribumi, amat populer dalam sejarah “musuh dalam selimut” Islam di Nusantara. Demi menjalankan misinya, ia sempat mengganti nama menjadi Haji Abdul Ghaffar. Abdul Ghaffar punya banyak kenalan ulama dan sering kirim surat sejak ia ke Makkah. Ghaffar—sering juga disebut Gofur atau Gopur.

Berasal dari keluarga Protestan, ia memulai karier akademik dengan belajar teologi di Universitas Leiden pada 1874 dan lulus sebagai doktor di kampus yang sama pada 1880 dengan disertasinya yang terkenal: Het Mekkaansche Feest (Perayaan Mekkah). Begitu Het Mekkaansche Feest dirampungkan, Snouck jadi pengajar bagi mahasiswa sekolah pegawai yang akan dikirim ke Hindia Belanda sejak 1881. Kesempatan memasuki Makkah akhirnya datang pada 1885. Dengan penguasaan bahasa Arabnya, ia berhasil meyakinkan para ulama di Turki akan kesungguhannya belajar Islam. Ulama-ulama itu bahkan membimbingnya. Masuk Makkah tentu akan mudah asal beragama Islam. Menjadi Islam juga mudah, cukup berucap dua kalimat syahadat.

Menurut surat Snouck bertanggal 18 Februari 1886 kepada kawan kuliahnya, Carl Bezold, ia hanya berpura-pura saat mendalami Islam. Ia tak jauh beda dengan Wyn Sargent, yang rela menikahi istri Obahorok, kepala suku Dani, demi meneliti kehidupan suku Analaga. Kemampuan Snouck meneliti dengan menyamar sebagai muslim diakui matang oleh Vogel, peneliti Belanda lain.

“Banyak petualang yang menyamar dan beberapa orang berpengetahuan telah mengunjungi kota suci, tetapi Snouck Hurgronje, tiada keraguan, adalah yang terbaik. Ia hidup mengikuti cara hidup seorang muslim dengan nama Abdul Ghaffar,” tulis Vogel dalam Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (1996).

Wajar jika Snouck atau Gopur menjadi kunci sukses pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukkan Aceh. Di Tatar Pasundan, Snouk Hurgronje sempat menikah dua kali. Pertama dengan Sangkana, putri penghulu besar Ciamis, Raden Haji Muhammad Ta’ib. Kedua dengan Siti Sadijah, putri Kalipah Apo.

Dari pernikahannya dengan Sangkana, ia memiliki empat orang anak. Istrinya itu meninggal saat melahirkan anaknya yang kelima pada 1896. Ia menikahi putri Kalipah Apo pada 1898 di Bandung saat Siti Sadijah berusia 13 tahun. Dari pernikahannya itu ia mempunyai seorang anak bernama Raden Joesoef, edisi Harian Rakyat Cirebon 22 Agustus 2020.

Menurut A Suryana Sudrajat dalam Tapak-tapak Pejuang: Dari Reformis ke Revisionis (2006), pernikahannya dengan Siti Sadijah diatur oleh Haji Hasan Mustapa sebagai atasan Kalipah Apo.

Ketika van Koningsveld, penulis buku Snouck Hurgronje dan Islam: Delapan Karangan tentang Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial (1989) menyatakan bahwa Hurgronje pura-pura masuk Islam, pernikahannya dengan dua putri penghulu banyak dipertanyakan.

Koningsveld menyebut kedua pernikahan tersebut sebagai upaya Hurgronje “memperoleh kedudukan sebagai orang dalam dalam elite feodal dan keagamaan Jawa Barat”.

Sampai kepulangannya ke negeri Belanda, bahkan sampai kematiannya, seperti dikutip A Suryana Sudrajat dari Koningsveld, Hurgronje tidak mengakui kedua istri dan anak-anaknya di depan hukum perdata Nederland. Bahkan pada 1910, ia menikah lagi dengan perempuan Belanda, Ida Maria, putri Dr. A.J. Oort, pensiunan pendeta liberal di Zutphen.

“Akhirnya dia berbuat sesuai dengan etika pergundikan kolonial, antara seorang Eropa dan pengurus rumah tangga atau nyai-nya,” kata Koningsveld seperti dikutip A Suryana Sudrajat dalam Tapak-tapak Pejuang: Dari Reformis ke Revisionis (2006).

Menurut Hamid Algadri dalam C. Snouck Hurgronje: Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab (1984), meski Hurgronje oleh Koningsveld dianggap sebagai “pura-pura Islam”, tapi keabsahan pernikahannya dengan putri para penghulu di Jawa Barat tidak dapat diganggu gugat.

“Di Parahiangan misalnya sudah lazim, bahwa pernikahan dimulai dengan mengucapkan kalimah syahadat oleh pengantin pria, syarat utama untuk seorang dapat diakui sebagai Muslim dan mungkin juga untuk menyelapkan segala keraguan tentang agama sang pengantin pria,” tulisnya.

Algadri menambahkan, tak mungkin seorang penghulu menikahkan putrinya dengan seorang lelaki yang tak diyakini keislamannya, baik secara lahiriah maupun rohaniah.

Raden Joesoef, putra Hurgronje dari Siti Sadijah, mengatakan kepada Koningsveld bahwa ibunya sangat yakin bahwa suaminya adalah seorang beragama Islam.

“Ibunya mengatakan [kepada Raden Joesoef] bahwa Snouck [Hurgronje] seorang muslimin yang taat, yang rajin sembahyang, berpuasa, dan juga telah disunat,” imbuhnya.

Di titik ini, Kalipah Apo nyatanya tak hanya nama sebuah ruas jalan di Kota Bandung. Ia juga menjadi salah satu sosok pemuka agama yang terlibat langsung dalam sejarah “hubungan mesra” antara Belanda dengan Islam di Nusantara.

Tentu kontroversi yang belakangan mengiringi dalam pernikahan putrinya dengan Snouck Hurgronje tak dapat dihindarkan. Atau meminjam kata-kata Asahan Alham—eksil yang menetap di Belanda: “Sejarah sudah tidak bisa dibetulkan dari belakang”. (wb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!