Dani Mardani Dianggap Cuma Fokus Menyerang, tanpa Tawarkan Program

181
DANGKAL. Pengamat politik Cirebon, Sutan Aji Nugraha menilai, orasi politik yang memuat wacana ganti walikota dibanding memasarkan paslon yang didukung tergolong dangkal. FOTO: NURUL FAJRI/RAKYAT CIREBON

CIREBON – Orasi politik Ketua DPD PAN Kota Cirebon, Dani Mardani SH MH yang mengampanyekan ganti walikota dinilai dangkal. Sebagai ketua partai politik, Dani mestinya memberi edukasi politik yang baik kepada masyarakat pada saat mengampanyekan calon walikota dan wakil walikota yang didukungnya.

“Saya kira kampanye semacam itu (ganti walikota, red) sangat dangkal. Akan jauh lebih baik dan bijak ketika seorang ketua partai memberi edukasi yang baik kepada masyarakat, termasuk proses untuk meraih kemenangan dalam pilwalkot,” ungkap pengamat politik Cirebon, Sutan Aji Nugraha, kemarin, di kawasan Bima.

Ia menilai, orasi politik ketua DPD PAN yang ramai menjadi perbincangan di kalangan netizen menyimpan makna lain. Dani tampak lebih fokus untuk “menyerang” petahana Drs Nashrudin Azis SH ketika memimpin, daripada memasarkan visi dan misi serta program strategis paslon yang didukungnya.

“Yang menjadi pertanyaan besar bagi publik, kenapa fokusnya menghantam petahana? Ini menunjukkan bahwa seolah-olah petahana punya power, sehingga harus dihantam. Sedangkan paslon yang didukungnya tidak dipasarkan dengan masif, apa visi dan misi serta program unggulannya,” tuturnya.

Meski demikian, Aji menilai, kampanye ganti petahana bagi sebagian pihak dianggap menjadi senjata ampuh guna menjegal petahana untuk tidak melanjutkan kepemimpinan di periode kedua. Dia mencontohkan, akhir-akhir ini ramai gerakan ganti presiden yang ditujukan untuk opini politik di Pilpres 2019 mendatang.

“Makanya, meskipun dangkal, opini politik ganti walikota harusnya menjadi warning atau peringatan bagi Azis sebagai petahana. Artinya, petahana juga mesti kerja keras untuk tidak kalah. Harus menggunakan strategi yang benar-benar jitu. Sebaliknya, bagi lawannya akan dianggap senjata ampuh,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut penulis buku Bunga Rampai Sang Ideolog itu, Dani mestinya sadar posisi. Dalam orasinya, Dani menyinggung soal pemerintah kota. Sedangkan ia sendiri merupakan bagian dari pemerintahan di Kota Cirebon. “Kalau pemerintahnya kurang baik, kemudian DPRD-nya membiarkan, itu kan sama saja,” kata dia.

Sebelumnya, dalam orasi politiknya, Dani menyerukan gerakan ganti walikota. “Saya tanya ke bapak-ibu, kira-kira pada saat rakyat susah, pada saat rakyat pengangguran, Pemerintah Kota Cirebon ngurus atau tidak?” ucap Dani dengan mengulangnya sebanyak tiga kali, pada Minggu (22/4) lalu.

Dani lantas menegaskan, pihaknya menginginkan agar walikota ganti dengan yang baru. Harapannya, kehidupan bermasyarakat akan lebih baik. “Kita ganti walikota! Untuk perubahan dan masa depan yang lebih baik, bapak-ibu sekalian,” katanya.

Tidak hanya itu, manuver Dani terhadap Azis juga menyinggung soal kondisi trotoar dan jalan di beberapa titik yang rusak. Atas kondisi itu, solusinya hanya pergantian walikota.

“Kalau pemerintahan, kepala daerah tidak segera ganti, mungkin tidak hanya saja trotoar yang rusak, tidak hanya saja jalan yang rusak. Mungkin bapak-ibu sekalian, seluruh tatanan masyarakat Kota Cirebon pada satu keadaan yang amat sulit,” katanya.

Ketua Tim Kampanye Gabungan (Timkamgab) pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota, Drs Nashrudin Azis SH dan Dra Hj Eti Herawati (Pasti) lantas angkat bicara terkait orasi politik Dani tersebut.

“Mungkin ketua DPD PAN panik. Jadi dalam orasi politiknya justru menyoroti paslon yang kita usung. Bukan malah membanggakan paslon yang didukungnya,” ungkap Ketua Timkamgab Pasti, M Handarujati Kalamullah SSos, ditemui di kawasan Harjamukti, Selasa lalu. (jri) 

 

 

BAGIKAN