Daun Kering Plus Angin Kencang, Penyebab Kebakaran Makin Meluas

3
PASCA kebakaran hebat di wilayah Hutan Gunung Ciremai kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kamis malam (21/09), api kembali melahap puluhan hektare kawasan hutan Gunung Ciremai.
kebakaran gunung ciremai makin meluas
Petugas TNGC berjibaku memadamkan api di gunung Ciremai. Foto: Gilang/Rakyat Cirebon
Berdasarkan pantauan lapangan koran Rakyat Cirebon, kebakaran hutan di Gunung Cirebon merupakan lanjutan dari sisa api pada, Kamis malam kemarin, sekitar pukul 21.30 WIB. Api berasal dari belakang Objek Wisata Telaga Remis. 
Kini, api kembali berkobar masih di wilayah Pasawahan, tepatnya di Blok Gibug sekitar Desa Padabeunghar, Wisata Batuluhur, sekitar pukul 08.00 WIB
Menurut Kepala Seksi Wilayah I Kuninga TNGC San Andre Jatmiko, meskipun api berhasil dipadamkan pada malam hari, tetapi faktor suhu panas membuat api kembali menjalar. Karena faktor angin yang cukup kencang, lanjutnya, api menyebar naik ke sisi kiri Gunung Cirebon, kemudian mencapai Blok Gibug dekat Wisata Batuluhur.
“Suhu panas ditambah kencangnya angin menyebabkan api kembali menyebar dan sampai Blok Gibug ini. Meskipun api sempat padam, akan tetapi karena didominasi oleh batuan dan semakbelukar padat, api kembali menyala,” paparnya.
Para petugas, lanjut Andre, dari jajaran Polisi Hutan Balai TNGC bersama anggota masyarakat peduli api mitra BTNGC dan masyarakat lainnya, serta keterlibatan dari kepolisian dan TNI terus berusaha keras mencari celah aman.
Dalam kurun waktu sekitar 24 jam sejak awal kebakaran terjadi, personel pemadam tersebut secara bergantian masuk keluar kawasan hutan untuk mencegat  rembetan api di seputar sisi-sisi areal yang sedang terbakar.
“Dari kemarin kami berusaha keras dengan bantuan dari berbagai pihak untuk bergantian memadamkan kobaran api,” ujarnya.
Atas kebakaran di wilayah Gibug, Batuluhur, Padabeunghar, Pasawahan tersebut, diperkirakan ada 80 Ha kawasan yang terbakar. Dengan demikian, ditotal kebakaran pada Kamis malam  sudah kurang lebih 120 Ha areal hutan Gunung Ciremai yang hangus. 
Sementara itu, di wilayah yang masuk Kabupaten Majalengka, ada sebelas titik di Gunung Ciremai yang rawan kebakaran, dan sedang  dipantau. Di sebelas titik tersebut tercatat ada sekitar 40 persen lahan hutan Perhutani, dan kebun  milik masyarakat.  
Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mencatat dalam sebulan ini sudah terjadi kebakaran dengan total luas mencapai 64 hektare.
Hal ini ditegaskan Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada BPBD, Indrayanto. Pihaknya mengatakan titik-titik rawan kebakaran di sejumlah wilayah Majalengka terjadi karena kemarau panjang, sementara lahan hutan banyak terdapat dahan, ranting dan dedaunan kering yang sangat mudah tersulut api.
“Jika ada gesekan kecil saja, apakah itu puntung rokok, ataupun gesekan antar dahan terutama buah pinus, kemungkinan besar dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Saat ini kami mencatat ada 11 titik rawan kebakaran yang terjadi di sejumlah kecamatan,” ungkapnya, usai apel upacara yang dipusatkan di SPTN Wilayah II Majalengka, yang melibatkan gabungan Polhut, BPBD, Satpol PP, Polri dan TNI, Jumat siang (22/9).
Pusdalop BPBD, Bicki mengatakan sebelas titik rawan kebakaran itu tersebar di beberapa kecamatan diantaranya Kecamatan Leuwimunding, Rajagaluh, Sindangwangi, Maja, Cigasong, Majalengka, Bantarujeg dan Lemahsugih. 
“Namun yang paling sering terjadi kebakaran ada di dua kecamatan yakni Rajagaluh dan Sindangwangi. Kedua kecamatan itu selalu langganan kebakaran jika musim kemarau panjang seperti saat ini. Secara keseluruhan dalam sebulan ini, kami mencatat ada 64 lahan sudah terbakar,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakapolres Majalengka Kompol Ijang Syafei mengatakan sebelas titik kebakaran hutan maupun lahan rakyat saat ini menjadi perhatian semua pihak.
Berdasarkan UU No 24 tahun 2017 dinyatakan bahwa ada tiga tahap untuk penanganan kebakaran yakni pra bencana meliputi pencegahan, dibuatkan posko, apel bersama. Yang kedua yakni sudah terjadi bencana meliputi tanggap darurat. Yang ketiga yakni pasca bencana meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Sesuai UU, yang bertanggungjawab dan kordinator bencana kebakaran  yakni ada di instansi BPBD. Tetapi soal penanganannya kita harus bergerak bersama, tidak bisa masing-masing. Makanya kita di sini, Polri, Satpol PP, Polhut, BPBD apel upacara bersama. Dan kita sudah bentuk posko penanganan. Selanjutnya komunikasi khusus di group WA untuk memudahkan komunikasi,” ungkapnya.
Meski begitu, Ijang mengatakan, Majalengka masih belum masuk zona merah kebakaran, artinya masih dalam skala kecil yang dapat ditangani dengan baik. “Belum masuk zona merah, masih bisa kita tangani. Setelah apel ini kami pantau lahan-lahan yang rawan kebakaran itu setiap hari secara bergiliran,” pungkasnya. (gio/hrd)