Difteri Sudah Renggut 4 Nyawa, 16 Pasien Masih Dirawat di RSUD GJ

Wabah difteri semakin mengancam. Hal itu terlihat ketika korban meninggal dunia akibat difteri semakin bertambah. Satu dari 17 pasien yang ditangani RSUD Gunung Jati, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (6/2) dinihari sekitar pukul 03.10.

KORBAN berinisial B merupakan remaja yang baru berusia sekitar 15 tahun, warga Kabupaten Majalengka.

Ruang isolasi penderita difteri
Ruang isolasi penderita difteri. Foto: Nurul Fajri/Rakyat Cirebon

Ia mulai mendapatkan perawatan medis secara intensif di ruang isolasi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon pada Jumat (6/2) siang.

Sebelum meninggal, B dilarikan ke RSUD Gunung Jati bersama kedua kakak dan bapaknya.

Setelah dilakukan tes laboratorium, mereka dinyatakan positif terjangkit difteri.

Ketiganya diduga kuat tertular difteri dari B.

Meninggalnya B, remaja asal Majalengka, sekaligus menggenapi jumlah korban meninggal akibat difteri menjadi empat orang.

Belum lama ini, difteri telah merenggut tiga nyawa warga Desa Sampih Kecamatan Susukanlebak Kabupaten Cirebon.

“Satu pasien asal Majalengka meninggal dunia pada Sabtu pagi. Jadi sampai sejauh ini sudah empat orang meninggal dunia akibat difteri. Tentu ini menjadi keprihatinan kita semua,” ungkap Direktur RSUD Gunung Jati Kota Cirebon, drg H Heru Purwanto MARS, dikonfirmasi melalui sambungan ponselnya, Senin (8/2).

Heru mengatakan, pasien lainnya penderita difteri masih menjalani perawatan medis di RS plat merah milik Pemerintah Kota Cirebon itu.

Heru menjamin, selama menjalani perawatan, pihaknya memberikan pelayanan optimal kepada para pasien. “Kita juga tempatkan di ruang isolasi untuk menekan potensi penularan,” katanya.

Pihaknya berharap, masing-masing pemerintah daerah maupun elemen lainnya bias berperan aktif melakukan pencegahan semakin tumbuh suburnya penyakit difteri.

Sehingga diharapkan tidak ada lagi penambahan pasien penderita difteri.

“Kita juga sudah menyiapkan ruangan kalaupun nanti ada pasien baru difteri. Tapi tentunya kita berharap tidak bertambah lagi pasiennya. Maka dari itu, perlu diantisipasi bersama,” kata pria berkacamata itu.

Sampai kemarin sore, pasien difteri yang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon tinggal 16 orang.

Dari 16 orang itu, sepuluh pasien berasal dari Blok Puhun, Desa Sampih, Kecamatan Susukan Lebak, Kabupaten Cirebon. Sedangkan tiga pasien lainnya berasal dari Desa Luwung, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon dan tiga pasien berasal dari Kabupaten Majalengka.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Mundu dr Syafaat Mulyanto MQIH, mengatakan, pejabat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar akan memantau langsung daerah yang warganya terjangkit penyakit difteri.

“Kemungkinan, besok Selasa (hari ini) Kemenkes  dan dari Dinkes Jabar datang ke Cirebon. Nanti juga kemungkinan ke Desa Sampih yang merupakan titik penyebaran difteri. Setelah itu, Kemenkes menengok pasien di Rumah Sakit Gunungjati Kota Cirebon,” ungkap Syafaat.

Dikatakan Syafaat, kunjungan tidak hanya sekadar kunjungan, akan tetapi bertujuan untuk memberikan perhatian, sekaligus memberi imbauan kepada semua masyarakat, terutama masyarakat di daerah titik penyebaran difteri.

“Meski belum pasti, tapi kami sudah koordinasi dengan Puskesmas Susukanlebak untuk memberikan data penyebaran difteri dari mulai time, place dan person harus,” pungkasnya. (jri/kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!