Diteror Usai Demo Tolak UU Omnibus Law, Aktivis Mahasiswa Nyaris Diculik Tengah Malam

Diteror Usai Demo Tolak UU Omnibus Law, Aktivis Mahasiswa Nyaris Diculik Tengah Malam

RAKYATCIREBON.ID-Dua aktivis mahasiswa dari Cirebon hampir diculik orang tak dikenal pascaunjuk rasa penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja pada Kamis pekan lalu di Kota Cirebon. Keduanya mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari beberapa orang yang tak dikenalnya.

Kejadian tersebut bermula saat sekelompok mahasiswa berkumpul di salah satu kontrakan di Kota Cirebon usai unjuk rasa, Kamis (8/10) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Mereka membahas langkah strategis untuk membebaskan ratusan pendemo yang diciduk aparat kepolisian saat unjuk rasa.

Pada malam harinya sekitar pukul 23.00 WIB, kontrakan tersebut didatangi beberapa orang. Mereka tiba-tiba menanyakan keberadaan seseorang kepada belasan aktivis mahasiswa yang berada di kontrakan tersebut. Identitas orang yang dicari tidak dikenal oleh mahasiswa yang berkumpul.

Beberapa orang tak dikenal tersebut terus melayangkan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa. Terutama terkait aksi unjuk rasa yang berujung bentrokan dengan polisi di Jalan Siliwangi dan Kartini. Mahasiswa yang ada di lokasi tersebut berangsur bubar saat beberapa orang tak dikenal terus-terusan menanyakan beberapa hal terkait demo.

Selepas bubar, tiga orang dari mahasiswa memutuskan untuk bertolak ke kawasan Jalan Tentara Pelajar Kota Cirebon. Saat “nongkrong” di ruas jalan tersebut sekitar pukul 00.30 WIB Jumat dinihari, datang dua orang tak dikenal yang keluar dari mobil pribadi. Keduanya langsung menarik dan merangkul salah satu mahasiswa, Friendy Oktian untuk masuk ke mobil.

Friendy menuturkan, di dalam mobil berpelat E tersebut terdapat 5 orang berpakaian preman. Friendy diajak muter ke beberapa ruas jalan sambil diinterogasi. Rangkulan tangan tak lepas dari lehernya, sepanjang orang-orang tak dikenal itu menginterogasi.

“Mereka minta saya sebutkan nama teman-teman yang ikut demo, saya sebutkan 15 orang yang kenal saja. Mereka minta lebih banyak lagi. Sempat ada intimidasi secara verbal sambil saya dirangkul erat. Kejadiannya di dalam mobil di Krucuk dekat rel kereta api,” ungkap Friendy, di kawasan Jalan Siliwangi, Senin (12/10).

Orang-orang tersebut terus menggali informasi mengenai unjuk rasa. Sampai-sampai ke identitas pribadi Friendy, termasuk ditanyakan pula identitas kedua orangtuanya. Setelah mengetahui latarbelakang profesi bapak dari Friendy, beberapa orang yang menginterogasi tiba-tiba melunak.

“Kemudian saya diantar pulang dan diturunkan dekat rumah saya di kawasan Talun Kabupaten Cirebon sekitar jam 02.18 WIB dinihari,” kata Friendy.

Sehari kemudian, pada Sabtu malam, kontrakan tempat Friendy dan teman-temannya berkumpul kembali didatangi 9 orang tak dikenal. Mereka kembali menanyakan mengenai aksi unjuk rasa penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja. Melihat indikasi yang sama seperti hari sebelumnya, para mahasiswa yang berkumpul memutuskan untuk bubar.

“Akhirnya kita putuskan untuk mengevakuasi diri ke Kuningan. Karena tempat kontrakan kita dipantau terus, akhirnya kita bentuk tim advokasi untuk melindungi teman-teman dari potensi kerawanan,” tutur Friendy.

Insiden serupa Friendy juga dialami temannya, Eki Nur Falahudin pada Jumat dinihari. Di saat Friendy diinterogasi. Eki semula bersama Friendy di Jalan Tentara Pelajar. Saat ia hendak pulang ke arah Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Eki berhenti di Sumber untuk makan nasi uduk tak jauh dari Pasar Sumber.

Saat makan, Eki yang didampingi seorang saudaranya, dihampiri seseorang tak dikenal. Eki tiba-tiba ditanya soal aksi unjuk rasa di Kota Cirebon. Termasuk ia juga ditanya identitas sampai alamat rumah. Tak cukup sampai di situ, seseorang tak dikenal tersebut juga minta ikut bersama Eki menuju arah Mandirancan.

“Dia minta nebeng, bilangnya nanti makanannya dia yany bayarin. Dia setengah maksa. Setelah itu saya terima permintaan itu. Selama di perjalanan, dia bertanya terus soal aksi demo dan identitas saya,” ungkap Eki.

Dalam perjalanan, kendaraan yang dikemudikan Eki tiba-tiba dipepet dua motor yang dikendarai oranh tak dikenal. Eki sempat menurunkan kecepatan motornya. Tak lama kemudian ia memilih tancap gas. “Sampai di Desa Nanggela, saya turunin orang yang nebeng tadi. Dua motor itu sempat ngikutin lagi. Tapi akhirnya pergi,” kata dia.

Sementara itu, salah satu anggota Tim Advokasi untuk Demokrasi Cirebon, Furqon Nurzaman SH mengatakan, dirinya mengapresiasi kesadaran mahasiswa untuk membentuk tim yang beranggotakan beberapa advokat tersebut. Menurutnya, teror, intimidasi dan sejenisnya, tak boleh dibiarkan.

“Penting kiranya untuk menjaga hak konstitusi. Kita tidak menuduh pihak mana pelakunya. Tapi yang jelas, cara-cara intimidasi itu tidak dapat dibenarkan, karena masuk kategori ancaman secara psikologis. Apalagi dilakukan malam hari,” katanya. (jri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!