DKP Bakal Manfaatkan TPA Kopiluhur untuk Gas Metan

45
CIREBON – Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon tengah melakukan uji coba gas metan sebagai pengganti gas elpiji. Gas metan ini berasal dari tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) kopiluhur.

tpa kopi luhur kota cirebon
TPA Kopi Luhur. Imaga by radarcirebon.com

“Pengelolaan gas metan ini merupakan program baru DKP untuk mengurangi bau tak sedap disekitar TPA kopiluhur. Namun, sumber gas metan di kopiluhur masih kecil. Jadi  TPA kopiluhur akan kita manfaatkan dan menyulap bau sampah menjadi gas metan atau CH4. Kalau kita berhasil melakukan uji coba ini, maka gas metan akan dialirkan ke masyarakat untuk kebutuhan sehar-hari memasak,” ujar Kepala DKP Kota Cirebon Taufan Bharata, kepada Rakyat Cirebon, Kamis (15/10).

Menurutnya, gas metan terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri metan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas guna mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa) sehingga terbentuk gas methan (CH4).
Artinya, ketika dibakar dapat menghasilkan energi panas. “Gas metan ini terbentuk secara alamiah karena tumpukan sampah yang puluhan tahun,” katanya.

Meski demikian, Kata pejabat yang hobi menyanyi ini, Kota cirebon belum bisa memanfaatkan gas metan itu secara maksimal. Dia mengatakan, dari hasil uji coba yang telah dilakukan DKP hasilnya lumayan bagus. Hanya saja, karena masih musim panas hasil gas metan hanya sedikit. Tapi, ketika dimusim penghujan tiba, pihaknya memastikan hasil gas metan akan lebih banyak.

“Gas metan ketika musim panas menguap karena sama–sama panas. Tapi, kebalikannya ketika musim hujan tiba. Pemanfaatan gas metan ini juga untuk menghindari terjadinya kebakaran di wilayah sekitar,” paparnya.

Untuk mendapatkan gas metan dari tumpukan sampah, kata Taufan, pihaknya harus menggali TPA dengan kedalaman 20 meter yang disebar di 23 titik. Penggalian tumpukan sampah sangat sulit dibandingkan dengan menggali tanah biasa. Sebab, sifat sampah mengikat dengan sampah lainnya.
“TPA yang digali sedalam 20 meter itu untuk mengambil gas metan yang ada didalam tumpukan sampah melalui bambu dan pipa yang ditanam,” bebernya. Munculnya, ide melakukan uji coba gas metan ini, karena berkaca dari kota malang.

Disana, gas metan sudah dapat dinikmati hasilnya oleh 200 rumah tangga. “Meski kota malang lebih dulu mengolah sampah menjadi gas metan, Kota Cirebon jauh bisa lebih baik dari Kota Malang. Jika, Kota Cirebon berhasil mengelola gas metan tahun ini, pihaknya akan menggratiskan aliran gas metan tersebut,” katanya.

Mantan kepala Dishubinkom itu mengungkapkan, dari 400 pemulung yang ada di TPA, 80 persennya merupakan warga asli sana. Oleh karena itu, dengan adanya gas metan, pemulung tidak hanya mengambil barang-barang yang bisa didaur ulang. Tapi, gas metan dari tumpukan sampah bisa dirasakan manfaatnya.

Ditambahkannya, anggaran yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk membuat gas metan ini sekitar Rp150juta. Rencananya, ketika program ini sudah berhasil, pihaknya akan mengajukan anggaran ke pemerintah pusat tahun 2016 mendatang. (dic) 

BAGIKAN