Dolar Menguat Dorong Kenaikan KHL

Berdampak Buruk terhadap Harga Kebutuhan Pokok 

INDRAMAYU-
Angka kebutuhan hidup layak (KHL) Kabupaten Indramayu tahun 2016 diprediksi menyentuh Rp 1,6 juta lebih. Meningkat sebanyak 12,5 persen dibandingkan dengan tahun ini sebesar Rp 1,4 juta lebih. Jika kurs dolar terus menguat, prediksi KHL tersebut akan turut bertambah.”Terutama dipengaruhi daging, tahu, dan tempe yang masih berasal dari impor bukan daerah,” kata Kepala Seksi Hubungan Industrial Perlindungan Tenaga Kerja Dinsosnakertrans Kabupaten, Indramayu Suharjo yang juga anggota Dewan Pengupahan kepada Rakyat Cirebon, Jumat (2/10).

dolar
Ilustrasi dolar. Image by jawapos.com

Menurut dia, kurs dolar yang menembus angka Rp 14.668 sangat berdampak buruk terhadap harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Pasalnya, untuk kebutuhan daging dan kedelai, Indonesia masih harus mengimpor.Dia menambahkan, itu baru perhitungan awal sehingga tak menutup kemungkinan akan melonjak seiring dengan penguatan dolar AS terhadap rupiah. “Minggu kedua atau pertama Oktober akan dilakukan kembali survei lapangan kedua sebagai pembanding apakah sama ketika sebelum Idul Adha dengan sesudahnya. Jika dolar terus naik, diprediksi akan lebih besar dari hasil pemeriksaan lapangan awal,” katanya.

Ia mengatakan, adapun yang menjadi lokasi pemeriksaan lapangan awal, yaitu Pasar Jatibarang sebesar Rp 1.673.456 ,Pasar Patrol sebesar Rp 1.652.917, Pasar Indramayu sebesar Rp 1.611.135. Dari 60 poin diperiksa itu terbesar adalah sewa kost sebesar Rp 300.000.  “Tertinggi kembali ditempati pasar Jatibarang, disusul Patrol Dan peringkat terakhir indramayu hasil ini tak jauh seperti tahun lalu dari tingatan urutan,” katanya

Menurutnya, rata-rata 10 persen kenaikannya. Data tersebut merupakan total dari tujuh komponen yang dihitung, yakni makanan-minuman, sandang, pendidikan, perumahan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan tabungan. Di samping pengaruh penguatan dolar AS, ungkap Suharjo, kondisi kedaerahan juga berdampak terhadap KHL. Menurut dia, tingginya gagal panen di Kabupaten Indramayu mendorong kenaikan harga beras.

“Jelas dengan puso kan keberadaan beras kurang dan kondisi ini mempengaruhi harga beras, sesuai dengan hukum ekonomi,” ujarnya.Suharjo mengatakan, meskipun diperkirakan ada peningkatan 12,5 persen, para buruh di Kabupaten Indramayu menilai angka tersebut tidak sesuai dengan harapan. Prediksi kenaikan KHL itu tidak setimpal dengan meroketnya dolar AS dan tingginya kenaikan harga bahan kebutuhan pokok serta lainnya.

“Jumlah itu enggak sesuai dengan harapan kami. Melihat semua barang naik, seharusnya Rp 2 jutaan lah KHL nya,” ujar Ketua Serikat Buruh Keramik Indonesia SGBN, Khaerul Anam.
Dia menekankan adanya perubahan dalam penghitungan KHL yang saat ini hanya 60 poin menjadi 120 poin bagi hitungan lajang itu. “Kalau menggunakan 60 poin, untuk kehidupan buruh lajang saja tidak mencukupi, apalagi kesejahteraan,” ucapnya. (laz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!