Firasat Sebelum Mbah Din Wafat; Mimpi Diantar Kakak Ketemu Ayahandanya

103
Sesepuh Pesantren Buntet, KH Nahduddin Royandi Abbas (duduk di kursi) bersama keluarga dan santrinya.

Cirebon dan dunia pesantren berduka. Pasalnya, sesepuh Pondok Pesantren Buntet, Almarhum KH Nahduddin Royandi Abbas, yang merupakan Putra bungsu KH Abbas Abdul Jamil, mengembuskan nafas terakhir di Barnet Community Hospital, London, Inggris, Rabu (25/4).

MBAH Din, panggilan akrabnya, meninggal dunia di usianya yang menginjak 84 tahun. Mbah Din wafat setelah beberapa hari terakhir menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Barneth, London.

Jimmy Mu’tashim Billah, cucu dari Mbah Din, mengungkapkan bahwa, sebelum meninggal dunia, Mbah Din, kata dia, memberikan isyarat kepada keluarga dengan menceritakan mimpinya bertemu dengan ayahandanya, KH Abbas bin Kyai Abdul Jamil, yang merupakan seorang tokoh ulama Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus sebagai pahlawan nasional.

Pertemuan di mimpi tersebut, kata Kang Nemi, Mbah Din didampingi saudaranya menghadap ayahanda. “Kami keluarga juga sudah diberi firasat. Sebelum dirawat, Mbah Din bercerita bahwa beliau bermimpi bertemu dengan ayahandanya, Kyai Abbas. Dalam mimpi tersebut, katanya, Mbah Din diantar langsung oleh kakak-kakaknya. Mungkin itu firasat beliau sebelum meninggal dunia,” kata Nemi saat dikonifrmasi.

Kepergian Mbah Din menghadap sang mahakuasa, memberikan duka yang mendalam bukan saja bagi keluarga dan masyarakat Cirebon saja, melainkan dunia pendidikan pesantren dan warga NU di Indonesia.

Untuk mengurus Jenazah Mbah Din yang bekerja di Kedutaan Besar (Kedubes) London tersebut, pihak keluarga sedang mengurusi surat kematian dari Council Barneth, di Borough. Proses penerbitan sertifikat kematian tersebut, kata dia, memakan waktu cukup lama. “Antara 3 sampai 4 jam. Kami sekeluarga komunikasi dengan istri Mbah Din, Ny Hj Fadliyah,” kata dia.

Setelah Council Barneth mengeluarkan sertifikat, kata dia, pihak Masjid Hendon baru bisa mengambil jenazah Mbah Din dari rumah sakit untuk dibawa ke Morgue Masjid untuk dimandikan, dikafani, dan disalatkan. “Dan setelah disalatkan, kemudian jenazah Mbah Din dipulangkan ke Indonesia. Karena waktu setempat masih pagi hari, maka kemungkinan jenazah akan tiba di Masjid Buntet Pesantren pada Minggu pagi nanti,” kata dia. (kim)

 

BAGIKAN