Galian C Ilegal Dibekingi Oknum Aparat

5
Pengusaha Terkesan Leluasa Gali Pasir

MAJALENGKAGubernur Jawa Barat saat ini tengah menagih data seluruh izin usaha pertambangan (IUP) yang ternyata baru ada enam kabupaten yang dinilai sudah  menyetorkan data tersebut. Sementara untuk wilayah Kabupaten Majalengka sendiri belum ada laporan mengenai data tersebut.

galian c ilegal majalengka
Galian C ilegal di Majalengka. Foto : Herik Diana/Rakyat Majalengka

Selain itu, rata rata lokasi galian dibekingi oknum aparat, sehingga pengusaha terkesan lebih leluasa. Menurut akitivis Komite Peduli Lingkungan Hidup Indoneska (KPLHI) Cabang Majalengka, Idrus mengatakan, pekan lalu telah melaksanakan survey ke sejumlah lokasi galian C yang berada di wilayah Majalengka, hasilnya kebanyakan galian tersebut ilegal.

“Ya, saat ini pak gubernur tengah menagih janji. Karena Majalengka belum menyetorkan data IUP. Alasannya, karena semua izin diduga kuat tidak termasuk dalam WP di data kementrian,” jelasnya, Minggu (27/9). Idrus menyebutkan, sejumlah galian C jenis pasir juga terdapat di wilayah kecamatan termasuk di kecamatan Ligung.

“Beberapa ada galian C jenis pasar darat, galian C jenis tanah liat. Rata-rata setelah kami kunjungi lokasi tersebut, tak berizin. Hal itu bisa diketahui dengan jelas jika memang sudah mengantongi izin, tidak akan sampai merusak lingkungan. Ditambah, kami survey ke lokasi itu karena ditingkat Jawa Barat pun saat ini tengah menunggu data tersebut,” terang Idrus kepada Rakyat Majalengka, (Rakyat Cirebon Group) kemarin.

Menurutnya, semua galian c tersebut tidak memiliki legalitas perizinan dari pemerintah wilayah di tingkat kabupaten. Salah satu tandanya yakni tidak memperhatikan keselamatan lingkungan dan tidak teratur. “Kedalaman galian rata-rata lebih dari 5 meter dan reklamasinya kurang maksimal,  masih banyak bekas galian yang tidak di ratakan lagi dan dibiarkan menganga begitu saja,” ungkapnya.

Idrus mengatakan, dari penjelasan dan keterangan pengusaha, mereka rata-rata mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak aparat, dan telah setor kepadanya (oknum aparat keamanan-red.) setiap bulan.

“Rata-rata pengusaha berdalih punya beking pihak aparat. Mohon maaf tak bisa saya sebutkan, karena belum tentu juga, mungkin mereka hanya pencatutan nama saja. Mereka izin secaara lisan dan berdalih sering bersilaturahmi ke lokasi galian,” ujarnya.

Bahkan,kata dia, ada beberapa lokasi yang justru dijaga oleh oknum tersebut. Meskipun ada petugas yang sering datang, yang berniat mengadakan penertiban galian c. Mereka tidak mengikut sertakan sidang tipiring ke pengadilan.
“Setelah terjun ke lapangan itu saya baru mengetahui bahwa ada banyak beking di lokasi galian C. Mereka memberikan sejumlah uang dengan nominal tertentu,”ungkapnya.

Hal senada diungkapkan pecinta lingkungan hidup, Bayu Saeful, kondisi jalan yang cepat rusak karena rata-rata diakibatkan proyek penggalian pasir yang dilakukan secara ilegal. Salah satu dampak langsung dari proyek tersebut debu yang terhirup langsung oleh pernafasan. Mengenai galian C ini memang perlu pengawasan dan pengawalan dari dinas terkait. “Selain tak berizin, galian C justru banyak menjadi penyebab kerusakan jalan yang sudah dalam kondisi bagus,” ujarnya. (hrd)

BAGIKAN