Gawat! Topik Belajar Agama Jihad dan Khilafah Paling Diminati Milenial

Gawat! Topik Belajar Agama Jihad dan Khilafah Paling Diminati Milenial

RAKYATCIREBON.ID – Menteri Agama Periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin (LHS) yang juga pencetus gagasan Moderasi Beragama menyebut kondisi faktual keberagamaan Islam di Indonesia saat ini berada pada dua titik ekstrem.

Sehingga perlu ada pemahaman dan upaya untuk memoderasi cara beragamanya, bukan agamanya. Dia juga merespon berbagai kajian tentang literatur keislaman generasi milenial, hasilnya menunjukkan bahwa generasi milenial sangat memiliki minat untuk untuk melakukan akses terhadap literatur keagamaan.

“Letak masalahnya adalah pada pilihan topik, di mana jihad dan khilafah paling banyak diminati. Sehingga pemahaman agama dengan cinta dan kasih sayang harus ditanamkan pada setiap generasi muslim,” tutur LHS

Senior Lecturer in the Study of Islam and Society, Griffith University, Australia, Adis Dudireja menekankan peran sentral Rumah Moderasi Beragama (RMB) IAIN Syekh Nurjati yang baru saja diresmikan dalam mempromosikan paham dan ekspresi keberagamaan dengan cinta dan wawasan yang baik.

“Sehingga generasi muslim tidak terjebak dalam pemahaman keagamaan yang ekslusif dan ekstrem,” kata dia.

Sementara itu, Perwakilan Badan Pengarah Ideologi Pancasila (BPIP), M Sobri mengatakan, Indonesia sesungguhnya memiliki perangkat yang ideal untuk mewujudkan kehidupan keberagamaan yang tengah-tengah, yaitu dengan Pancasila.

Menurutnya, Pancasila sangat relevan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi muslim sekaligus bagian dari warga negara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. “Sehingga dengan semangat Pancasila, RMB mampu hadir dalam menyelesaikan problematika kehidupan masyarakat,” kata dia.

DISKUSI. International Online Seminar for Moderation in Islam Seri I angkat tema Moderation Perspectitve in Understanding the Religious Texts and Social Practices, Selasa (14/7).

Menutup sesi diskusi, Alissa Wahid yang merupakan Putri dari Almarhum Gus Dur menekankan pentingnya pengarusutamaan moderasi beragama di Indonesia. Melalui komitmen kebangsaan, toleransi antar kelompok, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi dan adat istiadat.

Signifikansi pengarusutamaan ini paling tidak dilandasi oleh tiga alasan. Pertama, kehadiran agama untuk menjaga martabat manusia dengan pesan utama rahmah (kasih-sayang). Kedua, pemikiran keagamaan bersifat historis, sementara realitas terus bergerak secara dinamis. Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dirawat melalui strategi kebudayaan.

Dr Faqihudin Abdul Kadir, dosen senior IAIN Syekh Nurjati mempertegas bahwa lembaga yang dipimpinya dengan sumber daya yang mumpuni, karena beranggotakan dosen muda aktivis mampu berbuat banyak bagi bangsa dan negara.

Beliau menguraikan bahwa perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial sangat penting untuk dilakukan.

Bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan ini bukan hanya menjadi standar operasional dalam kajian tetapi juga merasuk  dan membudaya dalam kehidupan praksis sosial.

Tantangan lain yang lebih nyata adalah bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial ini menjadi life style bagi kalangan milenial yang tengah lelap dengan pola kehidupan disruptif.

Lebih lanjut, harapannya, RMB IAIN Syekh Nurjati dapat mengahsilkan rekomendasi-rekomendasi yang cerdas dan membumi dalam upaya pengarusutamaan moderasi beragama dalam menyongsong kehidupan masyarakat yang lebih damai, aman, dan sentosa. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!