Generasi Ketiga Jamu Nyonya Idep Bertekad Lestarikan Usaha Leluhur

Generasi Ketiga Jamu Nyonya Idep Bertekad Lestarikan Usaha Leluhur

SEJARAH perniagaan di Cirebon tak bisa lepas dari peran etnis Thionghoa. Setidaknya sejak tahun 1920, warga peranakan Thionghoa-Cirebon turut meramaikan roda ekonomi di Kota Wali ini. Barang yang dijual beraneka. Dari sembako, pakaian hingga jamu.

Ya, sejak dulu jamu menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Cirebon. Belum majunya industri obat-obatan modern, membuat masyarakat masih bergantung pada jamu baik saat merasakan sakit maupun sekedar untuk menjaga vitalitas tubuh.

Jeremy Hwang, generasi ketiga penjual jamu Nyonya Idep menceritakan, sejak dirintis pada tahun 1925an oleh Liem Pat Nio dan Kwee Kwan Soen, generasi pertama, jamu Nyonya Idep diburu pelanggan bukan hanya dari Cirebon juga dari Sumatera hingga Kalimantan.

Rempah yang digunakan jamu Nyonya Idep di antaranya sambiloto, widoro laut, secang, temu lawak, kayu manis, kunyit, kumis kucing, temu hitam, meniran dan lain-lainnya. Untuk keluhan penyakit tertentu racikannya bisa berbeda.

“Karena jamu ini punya banyak khasiat. Orang banyak bergantung pada jamu sebab zaman itu belum banyak obat-obatan modern,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon saat ditemui Rakyat Cirebon, Kamis (22/10) di Kota Cirebon.

Jeremy melanjutkan, usaha jamu Nyonya Idep diteruskan oleh Arniti, istri kedua Kwee Kwan Soen. Sepeninggal Liem Pat Nio. Jamu Nyonya Idep pun kien diburu. Lantaran khasiatnya mampu membantu menyembuhkan sejumlah penyakit serius.

“Waktu tahun 1950 sampai 1990an zamannya Ibu Arniti, rempah jamu Nyonya Idep mereka jual untuk bandrek dan rempah-rempahnya untuk bumbu empal. Pembelinya sampai ke Kota Toronto, Kanada. Mereka masih saudara Oey Beng Hwat suami Kwee San Nio (anak Atniti) yang tinggal di Toronto Kanada. Ada juga pembeli dari Timor Timur,” ujar dia.

Sampai pada puncaknya, usaha jamu Nyonya Idep diteruskan oleh generasi kedua yakni Kwee San Nio dan Oey Beng Hwat. Permintaan jamu masih tinggi. Mereka kemudian membuka toko jamu di kawasan Pasar Pagi, Kota Cirebon. Pembelinya lintas kalangan. Dari warga biasa hingga pejabat.

Jamu Nyonya Idep banyak diburu lantaran diyakini bermanfaat untuk membantu menyembuhkan kencing manis, susah keturunan, kencing batu, jantung, paru-paru, masuk angin dan menjaga vitalitas tubuh. “Kadang orang pesan resep. Lalu dibuatkan resep jamu,” ucap Jeremy.

Permintaan jamu Nyonya Idep mulai menurun sejak 1997. Bermula dari renovasi areal Pasar Pagi pada 1977 dan 1998. Toko jamu Nyonya Idep pun dibongkar dan tutup. “Dari situlah mulai kehilangan pelanggan. Apalagi Ibu Kwee San Nio pindah ke Bandung pada 2008,” masih kata Jeremy.

Meski demikian, jamu Nyonya Idep tak lantas mati. Jeremy selaku generasi ketiga masih berusaha menghidupkan kembali usaha yang dirintis leluhurnya. Dia masih melayani pemesanan jamu. Walau skalanya tak besar.

Bagi Jeremy menghidupkan jamu Nyonya Idep tak sekedar usaha dagang. Juga bentuk penghormatannya pada leluhurnya. Berkat usaha jamu di masa itu dia dan keluarganya bisa sukses di bidang masing-masing. Di luar jamu, Jeremy bekerja di perusahaan suplier buah impor dan lokal.

Menurut Jeremy, jamu masih punya potensi ekonomi yang besar. Saat ini ada kencenderungan masyarakat urban tertarik pola konsumsi sehat. Jamu salah satu yang dilirik. “Kalau kita tekuni sebetulnya masih profitable. Hanya saja butuh dikemas agar menarik minat pelanggan,” kata dia.

Jeremy pun bertekad tetap melestarikan usaha jamu Nyonya Idep. Sambil mencari generasi baru untuk melanjutkan usaha leluhurnya. “Sekarang saya yang teruskan. Belum ada yang mau meneruskan,” tukas dia. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!