Gerakan Gatot Nurmantyo, dari Kota Pahlawan hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata

Gerakan Gatot Nurmantyo, dari Kota Pahlawan hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata

RAKYATCIREBON.ID-Setelah Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) lahir, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo rajin manggung. Tapi sayang, selalu muncul penolakan setiap dia muncul. Di mana ada Gatot, di situ ada yang melawan. 

Terbaru, kemarin, saat menggelar acara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, mantan Panglima TNI ini disambut demo.

Gatot bersama beberapa pensiunan TNI yang tergabung dalam Purnawirawan Pengawal Kedaulatan Negara (PPKN), melakukan ziarah dan tabur bunga di makam para pahlawan revolusi, di TMP Kalibata, kemarin sore. Selain para purnawirawan, ada beberapa Ormas seperti Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI), Pengacara, Jawara Bela Umat, dan Bang Japar, ikut serta. 

Rombongan Gatot sempat tertahan saat hendak memasuki kompleks pemakaman. Dandim Jakarta Selatan, Kolonel Inf Ucu Yustiana menemui mereka. Ucu menjelaskan, kalau dalam kondisi Covid-19, ada larangan untuk berkerumun. 

Gatot, yang mengenakan baret merah plus kaos hijau dibalut jaket abu-abu gelap lengkap dengan pangkat di dada, serta masker hitam, adu argumen. Sampai membawa-bawa Sapta Marga. “Ini di makam pahlawan ya. Anda punya Sapta Marga Sumpah prajurit, Anda bertanggung jawab kepada Tuhan YME bahwa kami purnawirawan akan menghormati para pahlawan yang jadi korban G30S/PKI,” tegas Gatot. 

Ucu menjawab dengan tenang. Dia menyatakan hanya menjalankan tugas agar sesuai dengan protokol kesehatan. Setelah perdebatan alot, akhirnya mereka diperbolehkan masuk dengan syarat, maksimal 30 orang. “Baik, saya hargai,” ujar Gatot. 

Gatot berdoa dan menabur bunga di sejumlah pusara para pahlawan revolusi. Setelah 20 menit, Gatot dan rombongan selesai. Gatot pulang. Tapi, yang lain tak langsung pulang. Para purnawirawan menyampaikan pernyataan sikap; kecewa dengan sikap petugas Polri dan TNI yang melarang dan membatasi mereka tabur bunga. Kolonel Ucu langsung menyela dan meminta mereka segera meninggalkan lokasi. “Tolong Pak, tolong,” imbaunya sambil berupaya mengambil kertas yang sedang dibacakan Letjen Marinir (Purn) Suharto.

Di saat yang sama, dari pinggir jalan raya, terdengar orasi pendemo. Massa yang mengatasnamakan Aliansi Aktivis Mahasiswa Pemuda Indonesia itu sudah melakukan aksinya sejak siang. Namun, saat Gatot cs tabur bunga, mereka berhenti. Para purnawirawan yang masih ada di sana, lama-lama kesal mendengar orasi para pendemo. Mereka merasa terganggu. 

Entah siapa yang mengomandoi, tiba-tiba mereka mengejar para pendemo itu. Beberapa membawa bendera yang diikatkan pada bambu. “Kejar, kejar,” teriak mereka sambil berlari. 

Kaget, para demonstran langsung naik ke mobil dan tancap gas. Sebagian, tak sempat kabur. Ada pendemo yang tertahan dalam dua mikrolet. Kaca-kaca mikrolet dipecahkan dengan bambu. Wajah para pendemo yang terjebak dalam mikrolet tampak ketakutan. Beruntung, anggota TNI dan Polri yang berjaga lekas melerai. 

Kedatangan Gatot memang selalu diwarnai demo. Di Surabaya, Gatot, yang hendak menghadiri acara KAMI juga disambut demo. Acaranya juga dibubarkan karena tidak mengantongi izin kepolisian. Hal yang sama terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, keesokan harinya. Gatot ditolak para pendemo. Acaranya juga batal. 

Kemarin, Gatot juga batal hadir dalam acara deklarasi KAMI di Rengasdengklok, Karawang. Lagi-lagi karena adanya penolakan dari massa yang menamakan diri Aliansi Kerakyatan Anti Makar. Polisi dan Satpol PP membubarkan acara deklarasi itu. 

Warganet pun mengomentari penolakan-penolakan yang dialami Gatot. “Kemarin di Surabaya, Lombok, sekarang di Kalibata, apa gak malu?” cuit @KOMARUDINLISTI1. “Di mana ada Gatot, di situ ada demo dan potensi ricuh,” sambar @fathurdoaibu. (rmco)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!