Harus Nunggu 10 Tahun, Gas Metan Bisa Disalurkan ke Rumah Warga

Melihat Petugas DKP Kelola TPA dari Kebakaran dan Longsor


Tidak hanya kotoran dan bau sampah yang akan diperoleh masyarakat Kelurahan Argasunya. Tapi, warga yang berada di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopi Luhur itu akan mendapat berkah dari sampah berupa pemanfaatan gas metan.

pipa penyalur gas metan kopi luhur kota cirebon
Pipa penyalur gas metan. Foto: Sudirman/Rakyat Cirebon

LOKASI Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kopi Luhur Argasunya tampak dipenuhi rumput.

Terlihat, ada beberapa pipa warna-warni yakni biru, kuning dan hijau berdiri di tengah-tengah tumpukan sampah.

Menurut informasi yang diperoleh wartawan koran ini, pipa warna-warni itu digunakan menyalurkan gas metan yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan warga.

Namun, warga harus bersabar dan menunggu sekitar sepuluh tahun lagi untuk bisa menikmati kandungan gas metan itu. Pasalnya, kandungan gas metan di areal tempat sampah itu belum terlalu banyak sehingga jika digunakan akan cepat habis.

“Memang sempat nyala sekitar dua minggu setelah pemasangan alat operasional untuk pemanfaatan gas itu. Karena di TPA ini 80 persen adalah sampah anorganik jadi kita tunggu hingga sepuluh tahun mendatang mungkin bisa dimanfaatkan lagi,” jelasn Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Kopi Luhur, Otang Somantri ST saat ditemui Rakyat Cirebon, Kamis (11/2).

Dijelaskan Otang, sebelumnya gas metan dari TPA tersebut bisa dimanfaatkan.

Namun, nyala api yang dihasilkan oleh gas metan untuk kebutuhan dapur hanya mampu bertahan hingga hitungan jam saja.

Menurutnya, jika sampah yang berada di TPA Kopi Luhur tersebut mayoritas adalah sampah organik, masyarakat tidak mesti menunggu sepuluh tahun untuk memanfaatkan gas metan.

“Kalau organik mungkin hanya lima tahun,” cetusnya.

Dikatakan Otang, sampah yang sudah terurai dan memiliki kandungan gas metan dan sudah bisa menimbulkan nyala api adalah yang berada di paling bawah, yakni 15 meter dari tumpukan sampah paling atas.

Sementara, untuk tumpukan atau lapisan sampah yang berada di 5 meter paling atas, merupakan sampah baru, yang dinilainya tidak memiliki kandungan gas metan.

“Tumpukan sampah ini kita lapisi dengan tanah. Untuk pelapisannya itu kita melihat kondisi di lapangan. Jika sekiranya masih ada aktivitas maka kita akan melakukan pelapisan ditumpukan sampah yang tidak ada aktivitas atau kosong,” ucapnya.

Pemanfaatan kandungan gas metan tersebut, lanjut Otang, bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar bagi masyarakat sekitar.

Akan tetapi, dengan melepaskan gas metan yang ada di dalam tumpukan sampah tersebut, akan mampu mencegah terjadinya longsor.

“Semenjak di daerah Leuwi Gede longsor, kita sudah mulai mengajukan pemenfaatan kandungan gas metan. Kita lepas gasnya agar tidak terjadi ledakan dalam tumpukan itu,” bebernya.

Sementara itu, TPA Kopi Luhur sendiri setiap harinya menampung volume sampah mulai dari 650 kubik hingga 700 kubik.

Meski luas tanah yang ada mencapai 14,2 hektare, TPA Kopi luhur untuk saat ini hanya bisa memanfaatkan 9,2 hektare.

Melihat situasi tersebut, kata Otang, daya tampung TPA Kopi luhur hanya akan mampu bertahan hingga dua tahun kedepan, jika yang dimanfaatkan hanya 9,2 hektar saja. (man) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!