Hasil Survei Kepercayaan Rakyat ke Jokowi Turun, Apa Pemicunya?

Hasil Survei Kepercayaan Rakyat ke Jokowi Turun, Apa Pemicunya?

RAKYATCIREBON.ID-Pihak istana tidak marah atau membantah menyikapi hasil survei yang menyebut kepercayaan rakyat ke Presiden Jokowi menurun. Pemerintah menerima hal tersebut dengan lapang dada.

Indikator Politik indonesia yang dipimpin Burhanuddin Muhtadi, merilis hasil survei terbarunya, Minggu (7/6). hasilnya, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi pada Mei 2020 jadi 66,5 persen. Turun dibandingkan hasil survei Februari yang angkanya menyentuh 69,5 persen.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman mengatakan, Jokowi menghargai hasil survei Indikator Politik. Meski turunnya hanya 3 persen, penurunan ini akan melecut semangat Presiden untuk meningkatkan kinerjanya.

“Kepercayaan ini menjadi modal bagi Presiden untuk terus bekerja keras membangun sistem responsif yang ditandai oleh transparansi, akuntabilitas, dan kecepatan bertindak dalam penanganan Covid-19 untuk memasuki kenormalan baru (adaptasi kebiasaan baru),” tuturnya di Jakarta, kemarin.

Kata Fadjroel, Presiden akan terus berupaya melakukan reformasi birokrasi. Apalagi, sukses tidaknya membangun sistem responsif ini sangat dipengaruhi partisipasi publik. makanya, istana mendorong partisipasi publik untuk melakukan reformasi birokrasi yang konstruktif dan berprinsip pada kepentingan umum.

Fadjroel menggarisbawahi, penurunan kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi terjadi selama pandemi Covid-19. Keberadaan virus asal Wuhan ini telah mengancam kesehatan dan memukul daya tahan ekonomi global.

Pada situasi seperti ini, Jokowi dengan kepemimpinan demokratis, bekerja keras membangun sistem responsif terhadap pandemi demi keselamatan seluruh rakyat Indonesia. “Sistem responsif yang mampu menciptakan keamanan secara komprehensif baik kesehatan dan perekonomian rakyat, serta keberlanjutan hidup bangsa,” imbuh Fadjroel. Sistem responsif terhadap pandemi ini, salah satunya dengan membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Gugas Covid-19).

Presiden membentuk sistem pengorganisasian gugas Covid-19 yang melibatkan BNPB, seluruh kementerian/lembaga, Polri, TNI, dan pemerintahan daerah.

Fadjroel menyebut, survei indikator Politik memperlihatkan bahwa 67,3 persen masyarakat sangat puas terhadap kinerja Gugas Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa sistem responsif pandemi yang dibangun Presiden benar-benar bekerja menciptakan keamanan, khususnya dalam dimensi kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Kepemimpinan demokratis Jokowi mengorganisasi lembaga-lembaga negara, termasuk Kepolisian dan TNI dalam sistem responsif pandemi juga terlihat dari tingkat kepercayaan mayoritas masyarakat. Sebesar 85,7 persen responden merasa yakin bahwa polisi dapat menjaga keamanan selama masa pandemi. Bahkan 88,9 persen responden merasa yakin TNI dapat menjaga keamanan selama masa pandemi.

Bahkan pada situasi pandemi yang berat ini, Fadjroel bangga mayoritas masyarakat percaya kepada pemerintah pusat. Hal ini terlihat dari hasil survei yang menunjukkan 47,6 persen cukup puas, dan 8,8 persen sangat puas terhadap pemerintah pusat, atau rata-rata mencapai 56,4 persen. “Orkestrasi Presiden terhadap lembaga kepemerintahan dalam menjalankan sistem responsif bisa dirasakan oleh masyarakat,” cetusnya.

Parpol koalisi pendukung pemerintah juga ikut menanggapi hasil survei tersebut. Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, situasi saat ini begitu sulit. Bukan hanya Indonesia, negara yang dilanda Covid-19 pasti merasakan hal yang sama.

“Saya kira tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi masih tergolong tinggi di tengah penanganan pandemi Covid-19. Angka ini merupakan angka yang relatif tinggi di tengah pandemi yang dialami oleh hampir semua negara di dunia,” ulas Ace.

Dia memandang, penurunan 3 persen di situasi yang sulit seperti ini masih akan terlihat baik ketimbang sebelum kedatangan pandemi. Ace mengapresiasi pemerintah yang telah menunjukkan performanya dengan baik. Namun, Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini meminta pemerintah memikirkan hal lain di luar corona. Misalnya, efek domino yang harus bisa di antisipasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!