Indonesia Urutan ke-2 di Asia Tenggara, Corona Belum Mau Diajak Damai

Indonesia Urutan ke-2 di Asia Tenggara, Corona Belum Mau Diajak Damai

RAKYATCIREBON.ID-Virus corona belum mau diajak damai. Kemarin, jumlah kasus baru pecahkan rekor: hampir 1.000 orang. Tepatnya 993 orang. Penambahan paling banyak masih terjadi di Jawa Timur.

Dengan tambahan kasus baru tersebut, jumlah total pasien positif corona 30.514 kasus yang tersebar di 421 kabupaten/kota di 34 provinsi. Sementara pasien yang sembuh juga bertambah 464 menjadi 9.907 orang. Sedangkan jumlah yang meninggal bertambah 31 orang jadi 1.801 orang. Begitu juga dengan orang dalam pemantauan (ODP) jadi 46.571. Dan pasien dalam pengawasan (PDP) capai 13.347. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, penambahan 993 kasus baru ini merupakan hasil pemeriksaan dari 13.095 spesimen. Jumlahnya pecahkan rekor sebelumnya yang mencapai 973 orang, Kamis (21/5). 

“Kalau kita lihat lebih detail lagi, kenaikan tertinggi kita dapatkan dari pemeriksaan di Jawa Timur,” ujarnya di Gedung Graha BNPB, Jakarta, kemarin. Total kasus positif corona di Jatim per kemarin sebanyak 286 kasus. Sedangkan kasus sembuh mencapai 154 kasus. 

Kasus positif baru kedua tertinggi ada di DKI Jakarta, dengan angka 104 orang. Menurut Yuri, penambahan kasus positif di Ibu Kota berasal dari pekerja migran yang baru pulang dari luar negeri melalui Bandara Soekarno-Hatta dan melakukan pemeriksaan di Jakarta. “DKI Jakarta berdasarkan kajian yang kita dapat dari data, sebagian diperoleh dari hasil penelusuran yang dilaksanakan secara agresif terhadap kontak positif. Hari ini juga melaporkan 85 sembuh untuk Jakarta,” tuturnya. 

Selain Jatim dan Jakarta, tiga wilayah lain yang menjadi penyumbang tertinggi kasus positif corona di Indonesia adalah Papua dengan penambahan kasus 87 orang, Sulawesi Utara 79 orang, dan Sumatera Utara 68 orang. “Ini adalah jumlah tertinggi,” aku Yuri. 

Dengan jumlah pasien 30.514 kasus membuat Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara. Merujuk data John Hopkins University, Indonesia berada di bawah Singapura dengan 37.183 kasus positif. Di bawah Indonesia ada Filipina dengan 20.626 kasus, Malaysia 8.266 kasus, Thailand 3.102 kasus, Vietnam 329 kasus, Myanmar 236 kasus, Brunei Darussalam 141 kasus, Kamboja 125 kasus, Timor Timur 24 kasus, dan Laos 19 kasus.

Sementara di tingkat Asia, Indonesia berada pada posisi ke-11. India menjadi urutan pertama dengan 236.657 kasus positif. Diikuti Iran 167.156 kasus positif. Ketiga Arab Saudi 95.947 kasus positif. Urutan selanjutnya berturut-turut yakni Pakistan 93.983 kasus, China 84.177 kasus, Qatar 65.495 kasus, Bangladesh 60.391 kasus, Uni Emirat Arab 37.642 kasus. Kemudian, Singapura 37.183 kasus positif, dan Kuwait 30.644 kasus. 

Ketua Departemen Epidemiologi FKM Universitas Indonesia, Tri Yunus Miko Wahyono, mengatakan, ada beberapa cara memutus mata rantai penyebaran corona di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Salah satunya, melakukan pemetaan secara intensif terhadap daerah yang menjadi klaster. Begitu juga di Jakarta. 

Miko menganggap, penambahan kasus di Ibu Kota setiap pekannya masih tinggi. Sebab itu, perlu pengecekan dan pengontrolan secara masif di fasilitas umum. Tujuannya, agar jumlah kasus berkurang sporadis. 

Menurut dia, dengan masih tingginya jumlah pasien positif memperlihatkan corona belum mau damai. Karena itu, dalam penerapan new normal harus hati-hati. Sejauh ini Bogor menjadi kota yang paling aman jika ingin melakukan penerapan new normal. “Saya lihat betul jika menurunnya per pekan di atas 10 rasanya tidak aman. Kota Bogor yang paling aman, karena pernah 0 dalam seminggu, naiknya 5 atau di bawah 10. Jadi saya sarankan bisa dibuka bertahap,” cetusnya. 

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Donny Gahral Adian, memastikan, pemerintah berhati-hati dalam menerapkan new normal di tengah pandemi corona. “Ketika menyatakan new normal, Presiden memberi arahan harus terlebih dahulu ada edukasi, sosialisasi dan simulasi,” kata Donny. Untuk diketahui, saat ini Pemprov DKI dan beberapa Pemda di Jabodetabek sedang menjalankan PSBB transisi untuk memasuki erw new normal. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!