Industri Menjamur, Upah Buruh Tak Diperhatikan

49
PANGENAN – Kecamatan Pangenan ditetapkan sebagai kawasan industri yang berada di Wilayah Timur Cirebon (WTC). Wajar jika di daerah tersebut banyak pabrik dan perusahaan.  Dari banyaknya pabrik-pabrik yang berjejeran di sepanjang jalan Pantai Utara (Pantura) tersebut, kebanyakan merupakan milik warga asing. Dan kebanyakan dari para karyawan atau buruh di perusahaan tersebut adalah warga pribumi.

buruh cirebon
Kawasan industri Cirebon. Foto : Kim Abdurahim/Rakyat Cirebon

Menurut berbagai informasi dari para pekerja pabrik di daerah tersebut, baik yang sudah keluar atau yang masih bekerja mengaku upahnya tidak sesuai dengan pekerjaan dibawah Upah Minimum Kariyawan (UMR). Banyak dari para buruh tersebut mengaku hak-haknya sebagai karyawan pabrik di wilayah tersebut banyak yang tidak terpenuhi, entah terkait yang tidak sesuai UMR dengan ketetapan atau karena status para buruh yang dibeda-bedakan, hak cuti buruh, maupun asuransi Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan yang tidak terpenuhi.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh salah seorang mantan karyawan salah satu pabrik di daerah Pangenan, Iis Maesaroh (32). Warga asal Desa Japura Kidul, Kecamatan Asjap mengaku dirinya terpaksa keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik karena selain dirinya merasa haknya tidak terpenuhi karena gajinya tidak sesuai dengan UMR.

“Dulu memang saya pernah kerja di daerah itu, tapi saya keluar karena gajinya kecil, yah meskipun saya butuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi karena upanya tidak sesuai, makanya saya terpaksa keluar,” ungkap Iis kepada Rakcer. Keluhan tersebut bukan hanya diungkapkan oleh Iis. Sueb, salah seorang yang juga mantan karyawan atau buruh di salah satu pabrik yang ada di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan.

Dia menuturkan, upah yang diterimanya pada saat masih bekerja perhari di pabrik tempatnya bekerja sangat jauh dari UMK Kabupaten Cirebon tahun 2015 yang mencapai Rp1.389.500.  Bukan hanya itu, dirinya juga mengeluhkan terkait dengan jam kerja yang melebihi ketentuan yang sudah diterapkan oleh pabrik.

“Bukan Cuma gajinya tidak sesuai saja, tapi jam kerjanya juga tidaks esuai dengan ketetapan pabrik. Hariannya di bayar hanya Rp24 plus 15 ribu sebagai uang bensin, jadi Rp39 ribu/hari, sedangkan karyawan baru hanya digaji Rp22 ribu+15 ribu uang bensin,” pungkas Sueb. (kim)

BAGIKAN