Investor Jangan Ganggu Lahan Abadi

Investor Jangan Ganggu Lahan Abadi

RAKYATCIREBON.ID-Kepala Bapelitbangda Kabupaten Majalengka, Yayan Sumantri mengatakan, lahan untuk industri di Kabupaten Majalengka masih tersedia cukup luas.

Menurut Yayan, saat ini pengelolaan lahan sudah jelas dan sesuai dengan peruntukannya setelah Rencana Detail Tata Ruang disahkan menjadi peraturan daerah.

Saat ini, kata dia, Pemkab Majalengka sedang merevisi RTRW dan pengesahan RDTR, untuk menentukan luas kawasan industri, pertanian, lahan hijau sekarang yang masih tersisa.

Sekaligus menentukan lahan sawah abadi. Agar penggunaanya lebih terarah. Penentuan lahan sawah abadi masih diasistensi oleh Pemprov Jawa Barat.

“Sehingga, belum bisa menentukan seberapa luas lagi lahan di Kabupaten Majalengka yang masih bisa dipergunakan untuk lahan industri,” ungkap Yayan kepada Rakyat Cirebon, Minggu (4/10).

Dikatakannya, untuk lokasi industri secara makro Pemerintah Kabupaten Majalengka telah menentukan wilayahnya.

Yakni, di Kertajati Aerocity yang wilayahnya berada di sebelah selatan bandara Kertajati. Meliputi desa Babakan, Palasah dan Kertawinangun.

Namun, untuk koordinat aerocity hingga saat ini belum ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Selain itu, kata dia, kawasan industri lainnya berada di sepanjang jalur jalan Kadipaten-Cirebon. Yakni, meliputi Kecamatan Kasokandel, Dawuan, Jatiwangi, Palasah, Sumberjaya, Ligung.

Hanya saat ini belum diketahui sudah seberapa luas lahan yang dipergunakan untuk industri. Karena sejak beberapa tahun terakhir berbagai industri telah berdiri di wilayah tersebut.

Ada beberapa pertimbangan untuk memberikan izin industri. Diantaranya, amdal lalin. “Jangan sampai, adanya industri berdampak pada tingkat kemacetan lalu lintas di sebuah kawasan,” tandasnya.

Selain itu, kata dia, harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Jangan sampai mengganggu cadangan air bawah tanah.

Pasokan tenaga kerja juga harus terpenuhi. Idealnya banyak mempekerjakan masyarakat sekitar industri tersebut berdiri serta utilitas permukiman.

“Kalau sarana pendukung infrastruktur jalan di Kabupaten Majalengka sudah sangat siap. Karena sejumlah ruas jalan sudah diperlebar menjadi 8 meter, 16 meter,” ujar Yayan.

Bahkan, kata dia, untuk ruas jalan Majalengka-Jatiwangi sudah mencapai 20 meter. Jadi, dukungan infrastruktur jalan sudah sangat memadai.

Demikian juga dengan pasokan listrik. Pemerintah sudah menambah gardu induk. Satu lagi akan dibangun di Cikijing.

“Jadi, infrastruktur pendukung telah dipersiapkan sejak awal untuk menerima kedatangan investor yang akan mendirikan industrinya di Majalengka.“ kata Yayan.

Hanya kini Pemkab Majalengka harus mengevaluasi seberapa luas sisa lahan yang tersedia untuk kawasan industri. Karena, luas lahan sawah abadi berdasarkan RTRW sebelumnya mencapai 39 ribu hektare.

Sementara sebagian luas lahan yang sudah dipergunakan untuk industri kini menggunakan lahan sawah termasuk BIJB.

“Asistensi oleh Pemprov Jabar ini sekaligus untuk menentukan berapa luas lahan sawah yang harus dimiliki atau dipertahankan keberadaanya oleh Kabupaten Majalengka jangan sampai terganggu oleh industri,” ungkap Yayan.

Di Kabupaten Majalengka sendiri kini sudah berdiri puluhan industri. Seperti garmen, beberapa industri sepatu, kaos kaki, perangkat lunak barang elektronik, tas, industri makanan, alat kesehatan dan sejumlah pabrik lainnya.

Saat ini, masih ada sejumlah pabrik yang masih dalam proses pendirian bangunan. Seperti di Desa Sukaraja, Kecamatan Jatiwangi.

Sebelumnya, Bupati Majalengka, Karna Sobahi mengatakan, Majalengka hanya menerima pendirian industri yang mengeluarkan limbah kering.

Sehingga tidak berdampak besar pada pencemaran lingkungan baik air maupun udara. Pasalnya jika menerima industri yang mengeluarkan limbah cair seperti tekstil basah maka limbahnya akan mencemari sungai atau saluran air.

Sementara sungai dan saluran, airnya mengalir ke sawah dan air sungai sendiri airnya dimanfaatkan untuk sumber air bersih bagi masyarakat Majalengka dan Indramayu.

“Semua saluran air di Majalengka bermuara ke sungai Cimanuk, yang airnya dimanfaatkan untuk sumber air bersih. Makanya jika tercemar limbah, tidak memungkinkan dipergunakan untuk air baku,” katanya.

Sementara soal Instalasi Pengolahan Air limbah (IPAL), semua industri harus membangun IPAL sendiri saat pabrik didirikan. Sesuai perjanjian saat diterbitkannya perizinan.

Karena, kata dia, di Kabupaten Majalengka belum membangun kawasan industri yang IPALnya bisa dibangun IPAL Komunal.

“Saat menempuh penerbitan izin sudah disepakati agar bangunan yang ada memenuhi kaidah-kaidah struktur bangunan. Termasuk, diantaranya penyediaan 30 persen fasilitas umum dan fasilitas khusus, serta ruang terbuka hijau,” imbuhnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!