Jabar Siaga Bencana, BMKG: Cek Info Cuaca, Potensi Hujan dan Potensi Cuaca Ekstrem

52
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya (kanan)/RMOLJabar

RAKYATCIREBON.ID-Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) tengah bersiap menyambut lonjakan wisatawan di libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Namun, libur di penghujung 2019 ini bersamaan pula dengan musim penghujan di Indonesia.

Untuk itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengimbau wisatawan dan masyarakat umum untuk siaga bencana di momen libur akhir tahun.

“Secara umum, seluruh wilayah Jabar sudah masuk musim hujan, merata sejak minggu lalu. Curah hujan tertinggi pada Januari-Februari, potensi bencana banjir, longsor, dan angin kencang meningkat,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (27/12).

“Masyarakat bersama pemerintah harus antisipasi, di mulai dari bersihkan saluran air di dekat rumah agar air tidak meluap jadi genangan atau banjir, juga antisipasi pohon yang tumbuh miring di lereng bukit,” tambahnya.

Selain itu, potensi hujan khususnya di Kota Bandung terjadi pada siang dan sore hari. Karenanya, dia menyarankan agar kegiatan dilakukan pada pagi atau malam hari agar tidak terkendala guyuran hujan.

“Kami sarankan kepada masyarakat, cek info cuaca, potensi hujan, potensi cuaca ekstrem, agar aktivitas menyesuaikan dan lancar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi BPBD Jabar, Adwin Singarimbun mengatakan, wilayah Jabar memang rawan bencana terutama banjir, longsor, dan puting beliung setiap musim hujan.

“Kepada masyarakat, kami imbau jangan jadi objek, tapi jadi subjek berdaya. Mereka harus mampu mengurangi risiko bencana di wilayahnya, karena yang terpenting kesiapsiagaan masyarakat,” kata Adwin.

Selain pemantauan selama 24 jam dari BPBD dan koordinasi kesiapsiagaan bersama 1.800 personel dari pemerintah, TNI/Polri, hingga relawan, Adwin juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi bencana.

“Itu bisa menyelamatkan mereka dari bencana. Penelitian di Jepang bahkan menyebut kesadaran sendiri berperan 90 persen terhadap keselamatan saat bencana. Jadi masyarakat harus tahu potensi ancaman atau bencana di mana pun,” tegasnya.

Adwin menambahkan, penanggulangan juga dilakukan dengan konsep Pentahelix melibatkan akademisi, media, pebisnis, komunitas, dan pemerintah.

“Jika kita bisa mengurangi risiko bencana, dampak bencana juga bisa dikurangi,” tandasnya. (rmol)

BAGIKAN