Jadikan Pilkada Sebagai Adu Ide dan Gagasan

60
PIMPIN APEL. Plt Bupati Kuningan
PIMPIN APEL. Plt Bupati Kuningan Dede Sembada saat memimpin apel di lingkungan Setda Kuningan, kemarin.

KUNINGAN – Otonomi Daerah sudah berjalan hampir 22 tahun, tidak bisa dipungkiri implementasi otonomi daerah sudah begitu banyak hal positif yang yang dirasakan rakyat Indonesia. Antara lain pembangunan sarana dan prasarana semakin menggeliat sesuai potensi daerah, dengan tingkat akurasi yang tinggi serta mengakomodir keinginan masyararakat.

“Otonomi daerah telah mendorong adanya proses pengambilan keputusan public, yang lebih partisipatif juga demokratis lewat pemilihan kepala daerah,” kata Menteri Dalam Negeri RI, Tjahyo Kumolo, dalam sambutan yang dibacakan Plt Bupati Kuningan, Dede Sebada, pada upacara peringatan HUT-22 Otonomi Daerah, di halaman Setda Kuningan, Rabu (25/4).

Penyelenggaraan otonomi daerah yang bersih dan demokratis, sambungnya, merupakan cara utama yang paling efektif mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Oleh sebab itu, tema peringatan Hari Otonomi Daerah ke-XXII tahun 2018 ini yaitu Mewujudkan Nawa Cita Melalui Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang Bersih dan Demokratis.

Menteri menjelaskan, penyelenggaraan otonomi daerah yang bersih dan demokratis artinya bukan hanya mengharuskan daerah-daerah menjalankan kewenangan otonomi daerah berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan.

Penyelenggaraan otonomi daerah yang bersih dan demokratis bermakna bahwa pelaksanaaan implementsi otonomi daerah didasarkan atas aspek kelembagaan, bukan atas aspek kehendak atau aspek kelompok tertentu.

Kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Menteri mengingatkan untuk menjaga netralitas selama penyelenggaraan Pilkada.

Pemerintah tidak akan segan member sanksi tegas jika ada ASN yang coba-coba jadi tim sukses calon kepala daerah, juru kamapanye, memberikan bantuan fasilitas untuk kampanye atau bentuk tindakan tidak netral lainnya.

“Kepada para calon kepala daerah beserta para pendukungnya, jadikanlah Pilkada ini kontestasi ide dan gagasan, bukan ajang saling serang dan hujat. Perbedaan selama Pilkada adalah penguat bukan jadi alat pemecah belah,” tegasnya.(ale)