Jaga Kepulihan Mantan Pecandu Narkoba, BNN Adakan Aftercare

73
KUNINGAN – Kepribadian diri dan dukungan keluarga merupakan fondasi utama dalam menjaga kepulihan seorang mantan pecandu Narkoba. Kedua hal tersebut menjadi fokus perhatian bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kuningan dalam melaksanakan program aftercare.

bnn kuningan
BNN Kuningan. Foto : Mumuh Muhyidin/Rakyat Cirebon

Program aftercare merupakan program rehabilitasi berkelanjutan bagi mantan pecandu narkoba yang telah melaksanakan rehabilitasi primer di lembaga-lembaga rehabilitasi.

Di hadapan 30 orang peserta aftercare angkatan pertama, Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Kuningan, Asep Syaripudin SSTP MSi menjelaskan, selama mengikuti layanan aftercare tersebut, peserta dibekali dengan berbagai kegiatan seminar, konseling individu dan kelompok, serta didampingi konselor, dokter, dan psikolog guna menekan angka kekambuhan dan mempertahankan nilai-nilai yang diberikan selama masa rehabilitasi primer.

Tak kalah pentingnya lagi, program aftercare yang digelar di Aula Kantor BNN Kuningan, tepatnya di jalan Aruji Kartawinata, menghadirkan keluarga mantan pecandu narkoba guna mempercepat proses reintegrasi ke dalam anggota keluarga.

“Layanan aftercare berbasis rehabilitasi rawat jalan ini merupakan terobosan baru sejak Oktober 2015 ini. Para peserta terdiri dari 90 orang mantan pecandu narkoba yang terbagi menjadi 3 angkatan,” kata Asep kepada Rakyat Cirebon di sela-sela kegiatan, Senin (6/10).

Sementara, Kepala BNN Kabupaten Kuningan, Guruh Irawan Zulkarnaen SSTP MSi mengatakan, seiring berjalannya gerakan rehabilitasi 100.000 pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba, BNN berusaha mengoptimalkan tujuan rehabilitasi yang dilaksanakan di berbagai lembaga rehabilitasi, baik milik pemerintah, maupun masyarakat.

“Oleh sebab itu, pada tahun 2015 ini layanan aftercare atau pasca rehabilitasi berbasis rawat jalan mulai difungsikan di setiap kantor BNN Provinsi di Indonesia. Adapun BNN Kabupaten Kuningan ditunjuk sebagai pelaksana program se-Provinsi Jawa Barat,” kata Guruh.

Menanggapi hal itu, Konselor Adiksi Yayasan Maha Kasih, Ence Hadiat Rohanda AKs Msi, mendukung penuh program yang tengah berjalan. Dalam paparannya di hadapan orangtua/keluarga mantan pecandu narkoba, ia menjelaskan pentingnya peran keluarga dalam mengembalikan fungsi sosial mantan pecandu.

“Tidak dipungkiri bahwa angka kekambuhan seorang mantan pecandu narkoba terjerumus kembali memakai narkoba sangat tinggi. Program rehabilitasi selama 3 bulan atau lebih tidak dapat menjamin seseorang untuk bersih dari narkoba selama-lamanya,” jelasnya.

Ence menambahkan, keluarga sebagai orang terdekat wajib memberikan dukungan dan pendampingan kepada orang yang selesai melaksanakan masa rehabilitasi guna membantu terbangunnya rasa percaya diri mantan pecandu untuk berperilaku sehat, mandiri dan kreatif dalam hidupnya.

“Melalui sosialisasi program rehabilitasi, pemerintah berharap adanya perubahan stigma negatif yang masih ada di kalangan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut Ence menuturkan, baik pecandu maupun orang tuanya, saat ini banyak yang masih takut untuk melaporkan kondisi ketergantungan narkoba yang diderita karena cemas apabila laporan tersebut membawa mereka berurusan dengan masalah hukum.

Padahal menurutnya, UU Nomor 35/2009 membedakan antara pelaku kejahatan narkoba dengan korban kejahatan narkoba.“Kurir, bandar, produsen, dan jaringan peredaran gelap narkotika dihukum seberat-beratnya. Sedangkan pecandu dengan kondisi ketergantungan narkotika wajib melaporkan diri atau dilaporkan dan menjalani proses rehabilitasi,” tuturnya. (muh)

BAGIKAN