Jurnalis Diajak Pahami SOGIESC, Upaya Bangun Wawasan Keberagaman

Jurnalis Diajak Pahami SOGIESC, Upaya Bangun Wawasan Keberagaman

RAKYATCIREBON.ID – Sebagai organisasi yang mewadahi kreativitas dan kajian tentang keberagaman, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) terus aktif membuka ruang berbagi kepada berbagai kalangan. Kali ini, YIFoS memggelar Workshop Jurnalis Progresif, Minggu – Selasa (20-22/9/2020). Sebuah forum diskusi melalui kanal Zoom yang mempertemuan jurnalis dari berbagi media di Indonesia dengan komunitas ragam gender atau yang biasa disebut LGBTIQ.

Jihan Fairuz, Koordinator Nasional YIFoS, mengatakan, selama ini masih banyak ditemui pemberitaan terkait individu atau komunitas ragam gender yang kurang proporsional. Judul berita yang bombastis, pemberitaan cenderung menjurus pada penghakiman sepihak, serta verifikasi narasumber yang kurang kompeten berpotensi menciptakan gejolak yang mencederai gerakan perdamaian.

“Masih banyak ditemui pemberitaan menggunakan diksi yang masih menggunakan stigma atau asumsi-asumsi yang negatif tentang ragam gender dan seksualitas. Makanya ini diadakan biar teman-teman jurnalis juga paham tentang perspektif keberagaman gender dan seksualitasnya terutama SOGIESC,” ungkapnya saat dihubungi Rakyat Cirebon.

Karenanya, upaya membangun pemahaman bersama antara jurnalis dan komunitas ragam gender diinisiasi YIFoS. Menurut Jihan, hasil yang diharapkan dari Workshop Jurnalis Progresif ialah jurnalis mampu memproduksi berita terkait komunitas ragam gender secara berimbang.

“Sehingga dampak beritanya juga baik nggak berapi-api malah adem. Narasinya juga lebih positif. Dampaknya juga lebih baik pada teman-teman kelompok rentan ragam gender dan seksualitas,” ujar dia.

Vica Larasati, Direktur Eksekutif Qbukatabu yang juga narasumber dalam Workshop Jurnalis Progresif menjelaskan, untuk menciptakan pemberitaan proporsional, jurnalis diajak memahami SOGIESC akronim dari sexual orientation, gender indentity, expression dan sex characteristic. SOGIESC lazim digunakan sebagai dasar pijakan dalam menulis pemberitaan terkait komunitas ragam gender.

“Menurut aku pengetahuan tentant SOGIESC menjadi penting bagi jurnalis terutama dalam penulisan berita. Kenapa? Karena berita-berita yang dituliskan dan dipublikasikan selama ini tentang SOGIESC masih banyak yang salah kaprah atau terjebak dalam mitos-mitos yang berkembang di masyarakat,” ujar Vica.

Vica menjelaskan, jurnalis memegang peran penting dalam menyebarkan informasi yang mendukung harmonisasi dalam keberagaman. Jurnalis mampu membangun opini masyarakat lewat tulisannya. Atas dasar itu pemahaman mengenai SOGIESC menjadi salah satu kaca mata yang bisa digunakan jurnalis.

“Sehingga berita yang dituliskan tidak berpotensi menimbulkan kekerasan berulang atau stigma terhadap kelompok yang rentan terhadap kekerasan atas diskriminasi berbasis pada orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi serta karakteristik seks nya,” tambah Vica.

Dengan memahami SOGIESC, media dan jurnalisnya, kata Vica, dapat berkontribusi untuk membangun budaya saling menghargai dan merayakan keberagaman melalui konten yang diproduksi. Media dan jurnalis juga nantinya berkontribusi dalam membangun ruang diskusi dan dialog, diskusi tentang keragaman budaya Indonesia yang ternyata juga terbuka untuk mendialogkan seksualitas dan keragaman identitas.

“Misalkan saja eksplorasi terhadap lima gender yang berkembang di suku Bugis-Makasar, atau eksplorasi terhadap Candi Cetho dan Candi Sukuh di Jawa Tengah, dan masih banyak lainnya,” tukas Vica (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!