Kader Inti PKS Merasa Didiskriminasi

Kader Inti PKS Merasa Didiskriminasi

Ya bisa jadi karena persoalan itu, ini bukan hal baru tapi sudah ada sejak tahun 2015 silam. Hanya saja puncaknya sekarang-sekarang ini,” tandasnya.

Tarsadi khawatir persoalan ini akan berdampak pada perolehan suara PKS pada Pileg nanti. Pasalnya yang gagal mencalonkan ini adalah kader yang potensial dan memiliki basis suara di gress root.

“Ini akan berdampak ke yang lainnya, termasuk perolehan suara PKS kedepan. Yang tidak mencalonkan diri itu potensial,” terangnya.

Sabagai kader ia sangat menyesali dan prihatin dengan kondisi internal PKS saat ini. Menurutnya, konflik ini tidak bagus untuk perkembangan PKS ke depan.

“Persoalan ini kurang bagus di ekspose keluar. Harapan saya semua bisa menahan diri tidak mengeluarkan statemen yang kontra produktif yang menambah permasalahan ini semakin keruh, namun perlu adanya evaluasi. Saya harap saling mengevaluasi diri supaya islah betul-betul terjadi,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPD PKS Kabupaten Cirebon, Junaedi ST mengklaim persoalan di pusat tidak berdampak ke daerah khususnya Kabupaten Cirebon.

“Ada calon petahana kita yang mundur, tapi alasan yang terucap ke saya itu misalnya mas Thoif itu ingin fokus mengembangkan bisnis. Kemudian pak Aidin ingin mengembangkan pondok pesantren Al Muqodas. Jadi alasanya seperti itu bukan karena yang lain,” tuturnya.

Diakuinya, kader inti yang ingin mendaftarkan bacaleg harus mengisi surat pernyartaan. Sebagai bentuk keterikatakan dan komitmen untuk mematuhi AD/ART partai dan putusan pimpinan.

“Setiap jelang pencalegan juga ada surat semacam itu mas, hanya saja memang tanggalnya dikosongkan. Kalau kemudian dipermasalahkan saya juga tidak mengerti, karena dari dulu ada,” sambungnya.

PKS mendaftarkan 50 bacaleg di tingkat Kabupaten Cirebon, Thoif awalnya termasuk bacaleg tapi sebelum pendaftaran memilih mundur dengan alasan yang jelas. Begitupun Aidin Tamim yang semula ditugaskan oleh partai ke provinsi, namun lagi-lagi sebelum pendaftaran memilih tidak bersedia melanjutkan proses. (ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!