Kader PKI Pernah Jadi Walikota

7
Bangun Menara Air, Canangkan Kota Cirebon Bebas Buta Huruf

TEPAT setengah abad silam sejarah kelam Bangsa Indonesia tercatat. 
Huru-hara gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pecah pada 1965-1966. Di Kota Cirebon, pemberontakan itu pun terjadi. Bahkan, kota udang tercatat pernah dipimpin oleh seorang walikota yang berasal dari PKI.
balai kota cirebon zaman dulu
Balai Kota Cirebon 1927. Image by id.wikipedia.org
Untuk menelisik sejarah terjadinya Gerakan PKI pada 30 September sekitar tahun 1965 atau biasa disebut G 30 S/PKI di Kota Cirebon, wartawan koran ini, mencoba menggali informasi dari budayawan Cirebon, Nurdin M Noer. Sedikit banyak, ia menjelaskan tentang gerakan terlarang itu.
Berdasarkan sejumlah referensi dan wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait, Nurdin menyampaikan, Kota Cirebon pada periode 1960-1965 memiliki walikota dari kalangan PKI. Namanya, Raden Slamet Ahmad (RSA) Prabowo bin Ki Hatmo atau yang lebih dikenal sebagai Walikota Prabowo.
“Huru-hara G 30 S/PKI pada tahun 1965/1966 membuat kariernya sebagai walikota Cirebon berakhir. Meski ia memiliki prestasi dalam membangun Kota Cirebon, namun RSA Prabowo bin Ki Hatmo harus meringkuk di Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Benteng (sekarang) setelah diadili. Ia dituduh terlibat dan aktif sebagai kader PKI yang saat itu dianggap melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah,” tutur Nurdin, kepada Rakyat Cirebon.
Dijelaskan Nurdin, RSA Prabowo lahir di Purworejo pada 21 Januari 1924, meninggal di Jakarta pada 21 Maret 2008.Menurut salah seorang putri RSA Prabowo, RR Lily Trisningsih kepada Ketua Kendi Pertula, Mustaqim Asteja, ayahnya dibebaskan dari RTM pada Desember 1978.“Saat itu ia langsung naik kereta api dan dijemput keluarganya di Stasiun Senen Jakarta,” katanya.
Meski merupakan bagian dari PKI, lanjut Nurdin, menurut saksi mata, mantan Staf Walikota Cirebon, Drs Oom Ambari, RSA Prabowo terbilang walikota yang sukses. Terutama di bidang pembangunan. 
Dari sekian banyak pembangunan yang dilakukannya, di antaranya membangun menara air Gunungsari, yang kini berada di kantor PDAM Kota Cirebon.
“Pembangunan menara air itu merupakan bagian dari pengembangan penyediaan air di Kotapraja Cirebon dari 30 liter/detik menjadi 130 liter/detik dengan memasang pipa transmisi dari Cipaniis ke Gunungsari atau PDAM sekarang. Pembiayaannya diperoleh dari pinjaman Bank Pembangunan,” paparnya.
Pada masa itu pula atau 1965, RSA Prabowo mempersiapkan pembangunan Pasar Pagi. Sebelum itu, pada 1960, lewat sentuhan tangan Walikota Prabowo, Kota Cirebon menjadi salah satu kota terbersih pertama di Indonesia.“Pada sekitar tahun 1962 bersama Kapolwil Cirebon, Walikota Prabowo membangun Taman Lalu Lintas (Traffic Garden), yang kemudian berubah nama menjadi Taman Ade Irma Suryani (TAIS), lokasinya berdampingan dengan pintu masuk Pelabuhan Cirebon,” terangnya.
Nurdin juga menyampaikan, karya lainnya dari RSA Prabowo adalah menetapkan desa-desa yang ada di Kotapraja Cirebon sebagai wilayah administratif berdasarkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD GR) pada 16 September 1965.“Tanah bengkok dan titisara menjadi milik pemerintah Kotapraja Cirebon. Pada masa itu pula lahir Undang-Undang Nomor 18/1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Pada saat itulah julukan kotapraja diganti menjadi kotamadya,” jelasnya. (nurul fajri)
BAGIKAN