Karna Sobahi Ajak Generasi Tua dan Muda Ikut Bangun Majalengka

115
KONVOI. Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Majalengka, H Karna Sobahi-Tarsono ajak masyarakat berperan serta membangun Majalengka.

MAJALENGKA- Calon Bupati Majalengka H Karna Sobahi mengajak seluruh elemen masyarakat Majalengka baik tua maupun muda untuk aktif dalam proses pembangunan. Sebab dengan partisipasi masyarakat pembangunan akan berjalan dengan lancar dan sukses.

“Saya mengajak segenap komponen masyarakat Majalengka, tua muda di kota dan di desa, termasuk generasi milenial agar peduli dan aktif berpartisipasi aktif dalam setiap pembangunan,” ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka ini.

Masih dikatakan Wakil Bupati Majalengka non aktif ini, pembangunan yang melibatkan  masyarakat, merupakan gerakan yang didasarkan atas peran serta dan swadaya gotong royong masyarakat. Atas dasar itulah, kesadaran, peran serta dan swadaya masyarakat perlu  ditingkatkan agar partisipasi masyarakat dalam pembangunan dirasakan sebagai suatu kewajiban bersama.

“Dengan pastisipasi dan peran serta di sini, bukan berarti masyarakat itu
hanya berfungsi untuk memberikan dukungan dan keikutsertaan dalam proses pembangunan semata, tetapi juga menikmati hasil-hasil pembangunan itu sendiri,” paparnya.

Jika itu terjadi, lanjut Ketua DPD PUI Kabupaten Majalengka ini, akan tercipta sense of belonging  dan sense of responsibility dalam proses pembangunan menuju tercapainya peningkatan  kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

“Partisipasi pembangunan masyarakat itu menyangkut keterlibatan secara aktif dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, evaluasi, dan menikmati suatu usaha perubahan masyarakat yang direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat itu sendiri,” kata calon bupati yang diusung PDIP ini.

Maka dari itu, lanjut Karna,  masyarakat perlu diberdayakan sebagai proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, serta memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekanan di segala bidang dan sektor kehidupan.

Bahkan  Pemberdayaan ini dimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat. “Posisi  masyarakat bukanlah objek penerima manfaat yang tergantung pada pemberian dari pihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai subjek atau agen yang bertindak untuk berbuat secara mandiri,” ungkap pria asal Desa Malausma, Kecamatan Malausma ini.

Karna juga menilai keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan akses kesejahteraan dan kemampuan kultur dan politis.

“Intinya jika masyarakat mempunyai pengorbanan dalam pembangunan dan aktif dalam pengambilan keputusan, kemungkinan besar mereka akan memberikan komitmen yang besar, sehingga mampu memenuhi tugas secara bersama sama dalam mencapai tujuan bersama,” tandasnya. (pai)

BAGIKAN