Kasus Gunung Jati, Anggota Dewan Setuju Keterlibatan MUI

Kasus Gunung Jati, Anggota Dewan Setuju Keterlibatan MUI

RAKYATCIREBON.ID-Anggota komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Yoga Setiawan SE geram. Menyaksikan video yang viral terkait penanganan pemulasaan jenazah pasien Covid-19 dari Desa Astana Kecamatan Gunungjati yang dianggap tidak manusiawi. 

Menurutnya, hal itu adalah keteledoran pihak Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Kota Cirebon.Tapi, pihaknya tidak bisa intervensi mendalam. Karena RSD Gunung Jati berada di Kota Cirebon. 

Kendati demikian, selaku politisi yang membidangi kesehatan, merasa terpanggil untuk memberikan sikap. “Terlebih, ini menyangkut warga kami Kabupaten Cirebon. Kedepan jangan sampai terulang lagi,” ujar Yoga, Selasa (6/10).

Pihaknya mengingatkan kedepan pihak RSD Gunung Jati harus memperlakukan jenazah pasien Covid-19 yang dirujuk kesana secara baik. Mengurus pemulasaraan jenasahnya, jangan mengulang kejadian yang sempat rame, seperti kemarin. 

“Itu sih kayak menaruh mayat kucing saja. Itu kan manusia. Jadi harusnya koordinasikan dengan baik ke Pemkab Cirebon. Nantikan di situ ada tim gugus kecamatan. Nanti tim kecamatan akan koordinasikan ke tingkat desa,” ungkap Yoga.

Ia menganggap, apa yang terjadi di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon hingga videonya viral, menjadi suatu hal yang wajar. Karena, perlakuan mengurus jenasahnya, tidak manusiawi. Sehingga menyulut amarah warga setempat.

“Jadi wajar-wajar saja ketika kemaren ada warga yang sampai membuka peti jenasahnya. Itu kan ulah dari keteledoran pihak RSUD Gunung Jati lah. Kalau misalnya ada koordinasi, tidak akan mungkin terjadi semacam itu,” ungkap Yoga.

Yoga pun meminta pembuktian, berkaitan dengan popok dewasa yang masih menempel di jenazah. Karena pihak rumah sakit mengaku ada cairan yang keluar dari tubuh jenazah.

“Itu bisa dibuktikan tidak? Jangan-jangan hanya alibi saja,” katanya. 

Dengan kejadian yang menjadi sumbernya diduga atas keteledoran pihak RSUD Gunung Jati tersebut, Yoga pun kembali menegaskan, pihaknya tidak bisa mengintervensi terlalu mendalam ke pihak RS. 

Kejadian tersebut, tutur Politisi Hanura harap menjadi perhatian. Beruntung, keteledorannya bukan dilakukan oleh RSD Kabupaten Cirebon. Sehingga, tidak langsung disikapi secara tegas. 

“Kalau saja itu terjadi di RSD Kabupaten Cirebon saya sendiri yang akan langsung  hajar Dirutnya. Karena itu ketelodoran. Ini akhirnya menimbulkan stigma, apakah jenasah pasien Covid itu semuanya diperlakukan sama seperti itu?,” ujar Yoga.

Ia mengaku, dengan adanya wacana Bupati Cirebon, H Imron yang akan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pemulasaraan jenasah pasien Covid-19, dirinya sangat mendukung. Dan itu perlu dilakukan, agar tidak lagi menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Karena memang harus ada saksi bahwasannya pasien itu benar-benar terkonfirmasi positif Covid-19 dan dalam pengurusan jenasahnya sudah benar sesuai dengan syariat Islam jika pasiennya muslim,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!