Kepala Jaksa Jamu 2 Jenderal Tersangka Kasus Red Notice Djoko Tjandra

Kepala Jaksa Jamu 2 Jenderal Tersangka Kasus Red Notice Djoko Tjandra

RAKYATCIREBON.ID-Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Anang Supriatna, menjamu makan siang para tersangka kasus Red Notice Djoko Tjandra, Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo, saat pelimpahan berkas, hari Jumat lalu (16/10).

Cerita jamuan ini dituturkan secara lengkap oleh kuasa hukum Brigjen Prasetijo, Petrus Bala Pattyona, di akun Facebook-nya, Sabtu (17/10). Tak hanya menulis cerita secara runut, Petrus juga memajang betapa asik dan gembiranya saat dua jenderal tersangka itu, sedang makan siang. Selain dua jenderal itu, ada juga satu tersangka dalam kasus yang sama yaitu pengusaha Tommy Sumardi.

Dua jenderal itu lengkap memakai seragam polisi dengan bintang di pundaknya. Di meja opal warna cokelat, mereka duduk melingkar. Nasi dan soto ayam masih tersisa di piringnya masing-masing. Ada juga nasi putih yang masih ditutup plastik. Masih rapi. Belum tersentuh. Jajanan pasar ikut memenuhi meja tersebut. Ada lemper, onde-onde dan risol. Minumnya ada aqua dan teh. Nggak tahu itu teh manis apa tawar. Tapi, tak ada jus. 

Jempol diangkat. Senyum dilebarkan. Begitu yang dilakukan dua jenderal dan si pengusaha saat jamuannya itu diabadikan oleh jepretan HP. Entah siapa yang foto, tapi dari foto itu kelihatan mereka begitu bahagia. Tak ada wajah tegang apalagi takut. Padahal, saat itu, tepatnya Jumat (16/10), kedua jenderal dan satu pengusaha itu sedang mengikuti prosesi penyerahan berkas perkara dan barang bukti dari Polisi ke Kejaksaan. Mereka sedang di tahap dari tersangka akan menjadi terdakwa.

“Makan siang yang disediakan karena memang sudah jam makan,” tulis Petrus di Facebook-nya itu, sambil menambahkan, biasanya, bila advokat mendampingi klien, baik di Kepolisian, Kejaksaan, atau KPK, apabila sudah jam makan, pasti tuan rumah menawarkan makan untuk tamunya.

Namun, Petrus mengaku, ini kejadian baru. Sejak menjadi pengacara pada 1987, baru kali ini dirinya mengalami, saat penyerahan berkas perkara tahap 2 (P21), yaitu penyerahan berkas perkara berikut barang bukti dan tersangkanya, dijamu makan siang oleh Kepala Kejaksaan. Mungkin, karena ini perlakuan baru yang dialaminya itu, sampai-sampai Petrus menuliskan kronologi hal tersebut. 

Begini kronologis yang ditulis Petrus. Jumat (16/10), tepat pukul 10 pagi, para penyidik Dit Tipikor (Direktorat Tindak Pidana Korupsi) Bareskrim bersama 3 tersangka (Brigjen Prasetijo Utomo, Irjen Napoleon Bonaparte dan Pengusaha Tommy Sumardi) dalam kaitan penghapusan red notice Djoko Tjandra tiba di Kejaksaan Negeri Jaksel. Suasananya sangat ramai, karena banyak wartawan yang meliput, belum lagi tim pengacara para tersangka, karena satu tersangka didampingi lebih dari 7 orang, walau yang diperbolehkan saat wawancara P21 hanya didampingi 1 pengacara karena terbatasnya ruangan.

Awalnya, proses administrasi P21 berjalan sewajarnya. Pertanyaannya pun hanya seputar kondisi tersangka. Yaitu mengapa dihadapkan kepada jaksa dan menanyakan kebenaran semua keterangan dalam pemeriksaan BAP. Tanya jawab itu kurang dari 30 menit.

Saat tanya jawab ini, ada banyak kue jajanan pasar, kopi pahit, teh hangat yang disediakan tuan rumah untuk para tersangka dan para lawyer. “Tiba jam makan siang, kita disiapkan makan siang, nasi putih pulen hangat dan soto Betawi bening pakai santan panas,” tulis Petrus. 

Seusai makan siang, lanjut Petrus, Kepala Kejari Jaksel, Anang Supriatna menghampiri Napoleon dan Prasetijo. Tujuannya: menyerahkan baju tahanan. “Mohon maaf ya jenderal, ini protap dan aturan baku sebagai tahanan kejaksaan,” kisah Petrus menirukan ucapan Jaksa Anang.

Napoleon dan Prasetijo menerima baju tahanan tersebut. Mereka lalu membuka baju dinas dan menggantinya dengan baju tahanan. Napoleon dan Prasetijo tidak protes, karena merasa diperlakukan sangat manusiawi. “Pak Kajari bilang dipakai sebentar karena di lobi banyak wartawan yang meliput, dan ini demi kebaikan bersama,” tutur Petrus kembali menirukan ucapan Jaksa Anang.

Sampai di situ saja Petrus menuliskan kronologis kejadian tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!