Kisruh Keraton Kasepuhan, Jangan Wariskan Beban ini Pada Generasi

Kisruh Keraton Kasepuhan, Jangan Wariskan Beban ini Pada Generasi

PASCA acara silaturahmi Akbar Seluruh Dzuriah Kanjeng Sunan Gunung Jati di Keraton Kasepuhan yang tergabung dalam Santana Kesultanan Cirebon menjadi perhatian ulama-ulama Cirebon. “Apresiasi kepada saudara-saudara dzuriah Kanjeng Sunan Gunung Jati dalam memperjuangkan meluruskan sejarah Keraton Kasepuhan untuk mengakhiri polemik yang selama ini terjadi di Keraton Kasepuhan,” ungkap sesepuh Pondok Pesantren Benda Kerep Cirebon, Muhammad Ibnu Maisy kepada Harian Rakyat Cirebon, Selasa (18/08).

Menurutnya, jika bukan sekarang kapan lagi, jangan wariskan beban ini kepada generasi. “Kami di Benda mendapatkan cerita secara turun temurun bahwa keraton Kasepuhan sudah bukan asli dzurriyat Sunan Gunung Jati mereka itu keturunan Belanda pembunuh Pangeran Matangaji, diangkat sultan. Hentikan kedholiman karena membiarkan kedholiman adalah dholim,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muhammad Ibnu Maisy menambahkan sangat menghargai perjuangan saudara-saudara dzuriat Kanjeng Sunan Gunung Jati tentu dengan niat tulus. “Mereka berjuang semoga perjuangan mereka mendapatkan pertolongan dari Alloh, dan mendapatkan keberhasilan, berkah dan maslahat bagi semua pihak.”

Terpisah, sesepuh Pondok Pesantren, Maskan Al-Hikmah Gedongan, Cirebon. Abah KH. Abdul Hayyi Imam menyatakan kisruh Kasepuhan, tidak boleh berkepanjangan. “Masing-masing para pihak harus lebih mengedepankan cara ishlah yang baik, dan santun. Sudah seyogyanya para pihak yang kisruh terutama yang merasa diri berada di lingkaran Keraton harus melihat bahwa Keraton Kasepuhan itu bukanlah tinggalan orang-perorangan,” ungkapnya kepada Harian Rakyat Cirebon, Selasa (18/08).

Menurut Kang Hayyi, pemangku kendali amanat Keraton dari masa ke masa harusnya tidak membiarkan kebijakan pribadi seperti seorang ayah kepada anak, tapi Keraton sebagai sebuah sistem integral.

“Yakni berangkat dari wasiat Syekh Syarif Hidayatullah “Ingsun titip Tajug lan Fakir Miskin”. Artinya Marwah Kraton harus mengutamakan nilai-nilau religiusitas Islam), tanpa menyampingkan adat istiadat, budaya, dan tradisi sosial istana sentris,” imbuh pria yang akrab disapa Kang Hayyi ini.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa nilai-nilau religiusitas ini, identik dengan Para Kyai. Ulama sebagai pewaris langsung yang memiliki nasab Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) itu ada di pesantren-pesantren.

“Nah disinilah menjadi keharusan sinergisitas ulama jangan dilihat sebelah mata. Selama ini terkesan diabaikan. Marwah Islam di Keraton erosi, dan hanyut, hingga kepercayaan masyarakat mengalami perubahan sudah down (nuzul),” ujarnya.

Istana sentris, Kang Hayi menambahkan dewasa ini malah menjadi tidak jelas. Seakan-akan hanya simbol tahta mahkota (kraton ingsun).

“Sumbangsih pemikiran secara pribadi, maka Pesantren harus, menyudahinya kisruh tersebut untuk turut memberikan solusi ishlah pelurusan kebenaran sejarah Nasab Syekh Syarif Hidayatullah yg memberikan kunci amanat (bukan pemilik kunci),” pungkasnya. (wb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!