Krisis Global Untungkan Pengusaha Rotan

4
SUMBER– Krisis global yang melanda Indonesia berimbas hingga ke daerah, tak terkecuali Kabupaten Cirebon. Akibatnya, perusahaan-perusahaan yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri, mengalami kesuliatan. Sehingga tidak sedikit perusahaan yang kemudian mengurangi karyawannya atau PHK.

dinas tenaga kerja cirebon
Deni Agustin. doc. Rakyat Cirebon

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Deni Agustin SE mengatakan, di Kabupaten Cirebon sendiri terdapat 120 buruh yang di PHK, ada yang karena dampak krisis global, tak sedikit juga lantaran perselisihan hubungan industri.“Tingginya nilai dolar tentu berpengaruh. Jumlah yang di PHK tersebut memang tidak semua karena perusahaan tidak sanggup memberi upah lantaran krisis global. Tapi juga karena perselisihan hubungan industri,” tandasnya saat ditemui Rakyat Cirebon ini di Sekretariat Daerah, kemarin (2/10).

Dikatakan Deni, terkait dampak krisis global terhadap butuh dapat dilihat dari inflasinya.
Sementara itu, dari data Badan Pusat Statistk (BPS) Kabupaten Cirebon, kata Deni, inflasi di sini masih dalam kategori wajar. Sehingga tidak terlalu berpengaruh pada buruh.Untuk menghindari dampak yang lebih luas, lanjutnya, pemerintah daerah berupaya mencari peluang lapangan kerja baru.
Diantaranya, mencetak wirausaha baru, melalui pelatihan-pelatihan yang digelar pemerintah, kemudian penerapan teknologi tepat guna.

“Skala prioritas pemerintah adalah mengamankan desa dari krisis. Jangan sampai berdampak ke desa. Sehingga kita gencar lakukan pelatihan di desa, hasilnya muncul pengusaha-pengusaha baru, seperti membuka bengkel, warung makan dan budidaya jamur,” tandasnya.Pelatihan-pelatihan tersebut, menurutnya cukup efektif. Terbukti, selain memunculkan wirausaha baru, banyak juga tenaga yang dilatih oleh UPT Tenaga Kerja diminta sejumlah perusahaan besar.

“Kita siapkan dulu orangnya, dengan cara apa? Ya dilatih, setelah lulus baru kita tempatkan ke perusahaan yang membutuhkan,” terangnya.Rata-rata peserta yang mengikuti pelatihan, kata dia, terserap di sejumlah perusahaan. Deni menyebutkan, belum lama ini sebanyak 300 tenaga las diserap. Melihat hal itu, ia akan terus mencetak pekerja untuk kebutuhan industry.Sementara itu, Bupati Cirebon Drs H Sunjaya Purwadisastra MM MSi menyampaikan, tingginya nilai dolar terhadap rupiah atau terjadinya ekonomi global hanya berpengaruh kepada para pengusaha yang mengunakan bahan baku impor.

Sementara yang menggunakan bahan baku lokal dan di ekspor justeru diuntungkan, salah satunya pengusaha rotan.“Jelas sangat berpengaruh, tapi bagi perusahaan yang bahan bakunya impor. Untuk yang tidak impor justeru diuntungkan, karena bisa menjual dengan lebih tinggi,” jelasnya.
Memang, diakui Sunjaya, ada dua sisi positif dan negatif dengan naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah.

Sebab para pengusaha di Kabupaten Cirebon tak hanya menggunakan bahan dari lokal saja, tetapi banyak perusahaan yang mengandalkan bahannya dari impor.“Saya harap, nilai tukar rupiah terhadap dolar berangsur-angsur akan pulih. Sehingga iklim investasi dan iklim distribusi yang ada di Kabupaten Cirebon bisa berjalan sesuai dengan yang kita inginkan,” katanya. (ari)

BAGIKAN