Krisis Pangan Ancaman Nyata, Anak Muda Jangan Takut Bertani

Krisis Pangan Ancaman Nyata, Anak Muda Jangan Takut Bertani

RAKYATCIREBON.ID – Potensi krisis pangan lantaran belum optimalnya pemanfaatan lahan pertanian masih menghantui negeri ini. Meningkatnya jumlah populasi penduduk tiap tahun berbanding terbalik dengan makin rendahnya jumlah tenaga pertanian usia muda. Di beberapa daerah, hal ini nyata menurunkan hasil produksi pangan pokok terutama padi.

Isu ancaman krisis pangan serta upaya menggugah anak muda berani menjadi tenaga pertanian dibahas dalam diskusi sejumlah pegiat pertanian dari Ciayumajakuning, Selasa (11/8) di Kota Cirebon. Sambil asyik menyamil kacang rebus, masing-masing dari mereka memaparkan gagasan soal pertanian.

Farida Mahri, Pendiri Sekolah Alam Wangsakerta Cirebon memulai pembahasan. Menurutnya, krisis pangan bukan isapan jempol. Terlebih di Kabupaten Cirebon angka kemiskinan relatif masih tinggi. Sehingga distribusi pangan jelas tak bisa sepenuhnya merata.

Meski faktor daya beli mempengaruhi, ketersediaan bahan pangan yang terbatas pada kondisi tertentu menjadi problem dominan ancaman krisis ini. Apalagi di tengah wabah Covid-19. Dimana masyarakat dianjurkan menghindari aktivitas di luar rumah.

Hal itu berpengaruh pada pola konsumsi harian. Masyarakat dengan ekonomi mapan cenderung menimbun bahan pangan pokok di rumah dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.

Sementara yang miskin, masih berjibaku memulihkan pencahariannya. Sehingga hanya bisa memasok kebutuhan pangan dalam jumlah minimal.

“Isu pangan masih menjadi isu strategis. Di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanianlah yang bisa menjadi harapan. Selain menyerap tenaga kerja, hasilnya pun bisa menjadi bekal untuk survive,” palar Farida membuka diskusi.

Menurut Farida, guna menggenjot produksi pangan dibutuhkan optimalisasi lahan pertanian. Ini bisa dilakukan dengan dukungan SDM yang cukup. Sayangnya, tenaga kerja pertanian didominasi usia senja dengan kapasitas kerja yang tak selincah saat muda.

“Saya berharap, masing-masing dari kita mau andil dalam masalah pangan ini. Sebagai petani muda yang siap meneruskan masa depan pertanian di Indonesia,” kata dia.

Shobirin, petani dari Kabupaten Cirebon meyakinkan, di era pesatnya kemajuan teknologi, bertani pun menjadi lebih mudah. Hampir di semua tahapan bercocok tanam tersedia mekanisasi yang membantu kerja pertanian. Mulai dari mesin pembajak sawah, alat sprei elektrik, hingga mesin pemanen.

Terlebih informasi pertanianpun dapat diakses melalui berbagai kanal. Baik daring maupun via diskusi bersama pegiat pertanian. Oleh karena itu, dia mengajak anak muda jangan takut terjun ke sawah menjadi petani.

Shobirin menggarap sawah seluas sekira 2.800 m² ditanami varietas padi Inpari 64 secara organik. Dari situ menghasilkan 1,25 ton gabah kering panen. Tak ada kendala berarti ditemuinya berkat ketelatenannya dalam bertani. “Soal obat pertanian, tak perlu mahal. Saya menggunakan ramuan organik warisan orang tua dulu,” kata dia.

Sama halnya Shobirin, Sukarna memulai menanam lantaran tertarik berkontribusi di sektor pangan. Lahan seluas 800 m² dia semai varietas pandan wangi dengan sistem organik. Meski organik, hasilnya cukup memuaskan. Di musim tanam kedua ini dia memperoleh 7 karung padi.

Dia ingin membuktikan, sistem organik dapat menjadi alternatif bertani yang menguntungkan. Harga gabahnya dapat dijual lebih mahal. Ongkos produksi lebih murah plus lahan garapan menjadi lebih subur. “Tentu saja semua itu dikerjakan secara telaten,” ujarnya.

Sementara itu, Masjono, petani muda asal Majalengka ini mantap melumpur lantaran tertantang ingin memacu roda ekonomi di kampungnya melalui sektor pertanian. Jono sapaan akrabnya menggarap sehektar sawah dengan varietas persilangan kebo dan menkongga dengan sistem semi kimia.

Jono menceritakan, kebanyakan petani di kampungnya punya terobosan menggenjot produksi padi. Yakni menciptakan varietas unggul secara mandiri. “Di kampung saya, petani sudah biasa membuat benih sendiri. Jadi produksi padi bisa ditingkatkan,” ujar dia.

Tak hanya itu, inovasi juga dilakukan dalam menghemat belanja pupuk dan obat pertanian. Petani di kampung Jono terbiasa memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk. Tak perlu jijik, dengan teknik yang benar kotoran hewan jadi berkah buat petani.

“Untuk obat pertanian, kami juga menggunakan yang harga terjangkau asal bahan aktif dan dosisnya tepat sesuai kebutuhan Karena pengendalian penyakit dan hama tanaman sudah dilakukan sejak dini,” katanya.

Sementara itu, Wakhit Hasim juga pendiri Sekolah Alam Wangsakerta sekaligus dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon merumuskan, makin banyaknya anak muda yang terlibat dalam kerja pertanian memupuk harapan masa depan ketahanan pangan. Dalam jangka panjang, semua ini diarahkan untuk meningkatkan kemaslahatan banyak pihak.

Tak ada lagi kelaparan. Jauh dari krisis pangan. Pertumbuhan ekonomi meningkat. Maka cita-cita terwujudnya keadilan sosial menjadi semakin dekat. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!