Kuwu Bakung Kidul: Desa Wisata Jamblang Perlu Dukungan Masyarakat

Kuwu Bakung Kidul: Desa Wisata Jamblang Perlu Dukungan Masyarakat

RAKYATCIREBON.ID-“Mengapa Desa Wisata? Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.  Mengawinkan “Desa” dengan “Pariwisata” yang menghasilkan keturunan bernama “Desa Wisata” di tanah air,” demikian pernyataan Presiden Republik Indonesia, Puncak Sail Selat Karimata 2016, 15 Oktober 2016.

Desa wisata telah menjadi salah satu tren dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Suatu tempat bisa menjadi destinasi wisata karena mempunyai berbagai keunggulan dan keunikan, di antaranya keunikan budaya, seni, adat istiadat, keindahan alam, dan yang lainnya.

Menurut data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, dari sejumlah 74.954 desa yang menjadi tanggung jawab Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, sebanyak 1.786 desa berpotensi menjadi desa wisata.

Pemerintah lintas kementerian/lembaga berkomitmen akan segera mendorong desa wisata dan desa digital bisa disinergikan dengan pembangunan nasional. Hal itu agar target pembangunan yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik. 

“Desa wisata dan desa digital harus bersinergi agar bisa lebih terfokus sesuai dengan target pembangunan,” kata Abetnego Panca Putra Tarigan selaku Deputi II Kantor Staf Kepresidenan bidang Pembangunan Manusia dalam Rapat Koordinasi Kegiatan Pengembangan Desa Wisata yang dilaksanakan pada (22/7) di Hotel Aryaduta, Jakarta. 

Sebelumnya, rencana kerja tersebut bertujuan untuk pemulihan ekonomi dan reformasi sosial untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi dan sosial di desa-desa pasca Covid-19. Dalam upaya pemulihan ekonomi tersebut, sasaran utama akan diprioritaskan untuk dibangkitkan kembali yaitu sektor industri, parawisata, dan investasi. 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, perbaikan dan pengelolaan destinasi di kawasan perdesaan akan segera dikembangkan. Upaya tersebut akan segera dilakukan untuk menggembangkan parawisata yang berkualitas dan membawa pengaruh positif di daerah perdesaan. 

Menurut Sony Harry B Harmadi selaku Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), jumlah nominasi desa akan diperbaharui dan diintegrasikan antara Desa Wisata dan Desa Digital sebanyak 205 desa. 

Di Kabupaten Cirebon, dalam catatan Rakyat Cirebon, Sultan Sepuh XIV, PRA. Arief Natadiningrat mengatakan Cirebon memiliki potensi yang sangat besar sekali untuk desa-desa wisata, diantaranya adalah Jamblang. “Jamblang ini merupakan kota tua, banyak bangunan tua, dan juga punya kuliner yang khas yakni Sega Jamblang dan juga kerajinan keramik gerabah, serta yang dikenal celengan Jamblang,” ujarnya saat meresmikan Destinasi Wisata Gedoeng Toea Djamblang di Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Kamis (27/6/2019).

Senada dengan Sultan Sepuh XIV, Raden Chaidir Susilaningrat mengatakan selain bangunan tua, Jamblang berpotensi sebagai salah satu Kawasan budaya di Kabupaten Cirebon. Banyak potensi budaya yang ada mulai dari wisata kuliner hingga kerajinan. “Potensi wisata heritage dan bangunan-bangunan bersejarah seperti klenteng tertua ada, tepatnya di Desa Sitiwinangun. Selain itu juga di desa ini terdapat wisata kerajinan gerabah,” ungkapnya saat seminar penggalian sejarah Jamblang, Selasa (25/2/2020) di Pendopo Situs Kebagusan.

Desa Sitiwinangun, desa ini berlokasi sekitar 15 kilometer ke arah barat Kota Cirebon. Sebenarnya sudah ratusan tahun kondang sebagai sentra pembuatan gerabah, jauh sebelum Cirebon dikenal dengan batik atau industri rotannya.

Pembuatan gerabah sudah dilakukan warga sejak hanya berbentuk pedukuhan dan dihuni hanya sedikit penduduk pada ratusan tahun lalu, hingga kini yang dihuni sekitar 4.788 jiwa. Namun serbuan barang-barang rumah tangga yang serba plastik pada tahun 90-an, tanpa ampun langsung menggusur popularitas Sitiwinangun.

Wisata gerabah Desa Sitiwinangun kemudian masuk dalam jalur wisata di wilayah Kabupaten Cirebon. Desa ini melengkapi jalur wisata Desa Trusmi dengan batiknya, Desa Ciwaringin batik pewarna alam, dan Desa Tegalwangi dengan kerajinan rotan.

Kepada Rakyat Cirebon, pencetus Ngabolang di Jamblang, pria yang akrab disapa Bambang Jangkrik mengungkapkan bahwa ide gagasan pembentukan desa wisata dilandasi sebagai alternatif peningkatan ekonomi dan masyarakat desa. “Melihat trend sekarang, salah satu potensi yang ada adalah wisata. Secara umum, kita ingin menarik kunjungan wisatawan dari luar desa ke desa kita. Hal ini akan berdampak penambahan nilai ekonomi,” ungkap pria jebolan ITB Angkatan 2004, Jumat (24/7).

Menurut Bambang yang dikenal sebagai peternak jangkrik terbesar di Jawa Barat, pengembangan desa wisata ini memiliki peluang yang sangat besar. Wawan menyakini pengembangan desa wisata, menjadi stimulus positif pertumbuhan perekonomian pedesaan. Dengan itu akan ada peningkatan percepatan kesejahteraan masyarakat desa. Ingat pariwisata merupakan cara cepat meraup devisa. Maka dari itu pariwisata pun menjadi cara cepat membangun perekonomian desa.

Namun, upaya pengembangan desa wisata pada saat ini masih harus menghadapi banyak tantangan. Terbatasnya visi atau persepsi yang jelas dari masyarakat tentang potensi desa wisata, rendahnya interest dan kesadaran masyarakat.

“Masyarakat desa sebagian besar kurang memiliki inisiatif. Jadi, sebagai pemimpin di tingkat desa, rencana-rencana ke depan kita harus mempunyai visi dan inisiatif lebih, apalagi untuk kepentingan umum,” ungkap Bambang yang saat ini menjabat Kuwu Bakung Kidul.

Sejauhmana keterlibatan masyarakat dalam mengindentifikasi potensi desa wisata, menurut pria kelahiran 25 November 1987 ini sebenarnya hal itu bisa dijawab oleh masyarakat, karena menjadi bagian dari kehidupannya. “Data-data visual dan lesan perlu diinventarisir karena sangat penting sekali,” ujarnya.

Terkait usulannya Ngabolang di Jamblang, Jamblang Sub-District Integration Tourism ini, Bambang menjelaskan bahwa konsep tersebut merupakan penawaran program paket wisata di tingkat Kecamatan Jamblang. “Jadi kita menjual paket tourism yang terintegrasi di tingkat Kecamatan Jamblang. Artinya, melibatkan desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Jamblang. Diharapkan, dengan adanya integrasi ini semakin memperkuat paket-paket pariwisata tersebut,” jelasnya.

Efektifitasnya akan semakin bagus, imbuh Bambang, karena adanya sinergi. “Jadi bila tidak terintegrasi, upaya-upaya tiap desa untuk menjadi desa wisata tidak terlalu efektif. Apalagi bersaing dengan destinasi wisata yang lainnya. Tapi, bila terintegrasi dan didukung dengan lokasi Jamblang yang sangat strategis dan potensi kultur, sumber daya manusia, wilayah, sejarah, dan agraris. Kita yakin akan menjadi satu paket pariwisata yang menarik dan berdaya saing,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!