Luthfi Tak Diharapkan, Athoillah: Partai Ini milik NU, Jadi harus dekat dan ta’dzim Terhadap NU bukan Menjauh dan Jauh dari Para Kiai dan Pengurus NU

Luthfi Tak Diharapkan, Athoillah: Partai Ini milik NU, Jadi harus dekat dan ta’dzim Terhadap NU bukan Menjauh dan Jauh dari Para Kiai dan Pengurus NU

RAKYATCIREBON.ID- Surat Keputusan (SK) HM Luthfi MSi sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Cirebon sudah berakhir. Per 31 Juli 2020 lalu. Keberadaannya di DPC sudah tidak diharapkan lagi. Banyak yang kecewa, selama Ketua DPRD 5 tahun memimpin PKB.

Sebanyak 33 PAC PKB berharap, kandidat yang nanti maju dalam agenda Muscab PKB Kabupaten Cirebon 2020, benar-benar orang yang punya darah NU. Sejalan dengan historis dan idiologis, PKB.

“Partai kita ini milik NU, jadi harus bisa dekat dan bisa ta’dzim terhadap NU bukan menjauh dan jauh dari para kiai dan pengurus NU. 33 PAC PKB, mengharapkan Luthfi tidak maju lagi,” kata Ketua Forum Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Cirebon, H Athoillah SPdI, kepada Rakyat Cirebon, Senin (2/11).

H Atho begitu akrab disapa mengaku, selama kepemimpinan Luthfi di DPC PKB, para kader merasa “dikebiri” dan juga “dimumikan”. Dirinya prihatin atas kefakuman pengurus partai dimasa kepemimpinan Luthfi.

Selama 5 tahun memimpin, musyawarah kerja pengurus dan mengoptimalkan kinerja pengurus tidak pernah dilakukan. “Partai itu milik bersama bukan golongan atau pribadi. Secara AD/ART Luthfi sudah melanggar atas kepemimpinanya selama lima tahun. Jadi setelah kami ‘dikebiri’, kami juga ‘dimumikan’ oleh Luthfi,” kata pria yang juga masuk jajaran Pengurus DPC Kabupaten Cirebon.

Sebagai warga PKB sikap Luthfi yang selama ini menutup diri sangat disayangkannya. Bahkan sampai Luthfi jadi Ketua DPRD Kabupaten Cirebon pun, warga PKB belum merasakan manfaatnya.

“Saya sebagai Ketua Forum PAC PKB yang pada tahun 2018 sebanyak 33 PAC melakukan gerakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Luthfi,” katanya.

Menurutnya gerakan mosi yang dilakukan murni tidak ada unsur tendensius maupun yang menumpangi. Bergerak atas dasar keperihatinan kondisi PKB yang tidak jelas. “Kami masih berharap walaupun kami secara the jure dipecat secara sepihak oleh saudara Luthfi tetapi perjuangan kami belum selesai. Bahwa PKB harus segera diselamatkan,” ungkapnya.

Ia mengaku, memang 33 PAC adalah pendukung setia dan memenangkan Luthfi pada Muscab PKB Kabupaten Cirebon tahun 2015. Tetapi dalam perjalanan, semua pengurus yang dianggap tidak sejalan “diamputasi” dan “dimumikan”.

“Kami tegaskan bahwa gerakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Luthfi tetap berjalan sesuai cita-cita bersama, PKB harus dekat dengan NU, ulama, kiai dan seluruh masyarakat nahdliyin,” ujar H Ato.

Hal sama diakui Pengurus PAC Kecamatan Babakan, Mahfudzin. Menurutnya, PKB sebagai partai pemenang di Kabupaten Cirebon harusnya bisa optimal melayani ummat, bukan sekedar menunjukkan kebanggan semata.

“Dan kami belum merasakan real actionya. Harapan besar setelah Muscab 2020 sekarang, siapapun ketuanya harus benar-benar bisa mengurus partai dan segera membenahi kefakuman kepengurusan yang selama terjadi,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!