Maman Dianggap Tidak Mengerti Aturan Organisasi

5
Penuhi Persyaratan PD/PRT, Siapapun Boleh Maju di Konfercab Ansor


INDRAMAYU – Gerakan anti rezim Kampus putih yang dikomandoi oleh Maman Fathurrahman yang mengharamkan trah terkuat yayasan di Segeran Kidul memimpin kembali PC GP Ansor Kabupaten Indramayu itu dianggap ngawur dan tidak mengerti aturan organisasi.Hal itu dikemukakan oleh oleh Pengurus PC GP Ansor Yusuf Oding, ia menegaskan siapapun punya hak untuk mencalonkan diri dalam konfercab tanggal 24-25 Oktober mendatang. “Yang mengharamkan figur dari Segeran (Maman,red) itu harus belajar hukum lagi dan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) Ansor) lagi,” tegasnya.

gp ansor indramayu
GP Ansor. Image by ansor.or.id

Ia merasa tudingan mengharamkan itu sangat tidak berdasar pasalnya, jika mengerti aturan dalam organisasi dibawah naungan NU tersebut tidak akan asal mengeluarkan argumentasi apalagi di media masa. “Harusnya bukan saling tuding apalagi mengharamkan begitu, karena Ansor ini milik semua (kaum muda NU),” kata dia.

Hanya Oding memberikan catatan figur yang akan memimpin Ansor kedepan harus layak dalam berbagai hal, terutama harus mampu membesarkan badan otonom NU itu kedepan. “Dari manapun jika memenuhi persyaratan dan memiliki komitmen tinggi memajukan Ansor tidak boleh diharamkan,” terangnya.

Oding menjelaskan dalam PD/PRD pasal 25 jelas menyuratkan seorang Anggota GP Ansor dapat dipilih sebagai ketua pimpinan cabang dengan syarakat pernah menjadi pengurus pimpinan GP Ansor atau badan otonom, lembaga dan lajnah di lingkungan NU lainnya sekurang-kurangnya 3 tahun. “Itu dalam poin a, poin selanjutnya harus berusia tidak lebih dari 40 tahun pada saat dipilih, kemudian berakhlakul karimah, berprestasi berdedikasi tinggi dan loyal serta mampu menjalankan  organisasi,” ungkapnya.

Senada juga dikemukakan Calon Ketua PC GP Ansor Edi Fauzi, menurutnya setiap kader muda NU memiliki hak yang sama untuk melakukan aktualisasi diri dan pengabdian terhadap organisasi dan menjadi pemimpin dalam organisasi NU dan banomnya.“Yang penting memiliki kapasitas, integritas dan kapabilitas dalam mengelola organisasi NU menjadi lebih baik lagi. Tanpa harus dibayangi oleh unsur nasab, trah dan lainnya yang bersifat feodalistik,” tukasnya.

Sebelumnya salah satu aktivis NU Maman Fathurrohman mendeklarsaikan dirinya maju sebagai lawan tanding siapapun figur yang akan dijagokan dari keluarga besar tokoh NU H Abas Assafah.
Maman juga menegaskan haram hukumnya Ansor periode mendatang dipimpin kembali oleh trah Segeran, karena bukan milik satu golongan saja, sementara banyak kader NU lainnya yang potensial.
Dari situlah ia menolak keras jika ketua PC Gerakan Pemuda Ansor kedepan tetap dipaksakan dari trah Bani Abasiyah, karena sebagai organisasi gerakan dan kaderisasi, bukan praktik dinasti apalagi memaksakan harus pilihan dari Segeran.

Ia juga mengabaikan adanya kabar tidak majunya putra Mahkota kampus Putih Miftakhul Fattah, Ia menganggap rezim kampus putih masih tetap akan memainkan perannya. Maman menganggap kaderisasi dan beraktualisasi di Ansor selama ini tidak mendasarkan pada obyektifitas personal dan sumber daya anak muda NU, ia menyarankan agar kampus putih juga tidak hanya mengakomodir kelompok atau penumpang gelap hasil dari produksi daerah lain. Karena jebolan IPNU dan PMII atau banom NU lainnya hasil dari Indramayu juga baik sehingga tidak bisa dinafikan keberadaanya. (laz/rls)

BAGIKAN