Mata Pencarian Penggarap Bisa Hilang

25
Jika Kembali Dibangun PLTU II dan III


ASTANAJAPURA – Adanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tahap 2 dan 3, berdampak kepada para penggarap lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan.

penggarap lahan pertanian
Penggarap lahan pertanian. Foto: Kim/Rakyat Cirebon



Seperti yang dialami oleh salah seorang penggarap lahan daerah sekitar, Buang (45), kepada Rakcer ia mengungkapkan, dengan pembangunan PLTU tahap dua, membuatnya bisa kehilangan mata pencaharian.

“Pembangunan PLTU ini, membuat saya kehilangan mata pencarian saya,” katanya, Selasa (10/5).

Dirinya merupakan salah satu penggarap dari 519 penggarap lahan yang berasal dari Desa Kanci Kulon Kecamatan Astanajapura yang diyakini akan mendapatkan dampak negatif dari adanya pembangunan PLTU.

“Saya jujur saja bingung kedepannya mau bagaimana. Karena, lahan sawah dan tambak garam yang saya garap, kedepan tidak bisa diolah lagi,” keluhnya.

Selain itu, panen yang dilakukannya beberapa hari lalu, kata dia merupakan panen terakhirnya. Pasalnya, lahan yang ia garap, sudah akan dibangun PLTU.

“Yah mau bagaimana lagi, ini akan jadi panen terakhir saya. Saya bingung nanti bagaimana. Saya hanya dapat Rp14 juta sebagai ganti lahan yang saya garap. Sementara untuk kopang garam, saya dapat Rp8 juta dan sawah yang ditanami padi, dikasih Rp6 juta,” katanya.

Padahal, selama ini, lahan garapan tersebut, merupakan satu-satunya lahan mata pencahariannya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Lebih parahnya, dirinya memiliki anggapan bahwa, lahan yang ia garap, seakan-akan diambil oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk dijadikan sebagai PLTU.

“Tapi lahan ini direbut untuk dijadikan PLTU. Kita yah tidak bisa berbuat banyak. Yang lain juga sama. Kita terima-terima saja, meskipun kita hanya dikasih permeter lahannya hanya Rp2000 rupiah saja,” ujarnya.

Saat dilakukan kegiatan validasi data lahan, kata dia, dirinya tidak dilibatkan dan diberitahu luas lahan garapan yang ia garap.

“Saat validasi data lahan juga, saya sama sekali tidak dikasih tahu luas lahan yang saya garap, cuma dikasih tahu nominal dana kerohimannya saja sebagai ganti rugi. Dan saat diberikan dana kerohiman juga, saya tidak dikasih tahu luas lahan yang saya garap. Seharusnya kan tercantum keterangannya,” katanya. (kim)

BAGIKAN