Melihat Tradisi Mamayu Ki Buyut Trusmi

Ungkapan Syukur dan Sambut Keberkahan dengan Ider-ideran


SEBAGAI bentuk rasa syukur dan memohon keberkahan, ribuan warga ikuti tradisi ider-ideran Mamayu Ki Buyut Trusmi, kemarin. Ribuan warga, memadati satu ruas jalan Pantura arah Jawa Tengah di wilayah Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon pada Minggu pagi. 



Berbagai jenis kreativitas ditunjukkan warga setempat pada kegiatan adat-istiadat tersebut. Mulai dari atraksi kuda, iring-iringan badut, pencak silat, drumband, kuda lumping, gunungan hasil bumi, hingga berbagai bentuk boneka raksasa yang ditandu puluhan orang.


Menurut Mahmudin, salah seorang warga Plered yang tengah menyaksikan tradisi tersebut mengaku, meski arak-arakan terkadang membahayakan, para penonton seakan tak jera menyaksikannya dari jarak dekat. 


Mereka pun terkadang tertimpa oleh iring-iringan orang yang berjalan mengenakan tongkat tinggi atau egrang tak kuasa menahan keseimbangannya.
“Ya memang sudah biasanya seperti ini. Desak-desakan. Tapi saya suka ider-iderannya soalnya unik-unik. Lumayan buat hiburan sama teman-teman,” katanya saat ditemui di pinggir jalan Pantura.


Dari informasi yang berhasil dihimpun Koran ini, kegiatan ider-ideran tersebut merupakan pembuka kegiatan Memayu Ki Buyut Trusmi, yakni kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan warga Desa Panembahan dan sekitarnya.
Hal ini yang merupakan tradisi menyambut musim hujan dengan ditandai prosesi penggantian atap bangunan atau welit di kawasan makam Ki Buyut Trusmi.


Bagi warga, tradisi memayuh ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah, yang sebagai symbol tersebut berupa nasi tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi yang  dikirab dan diarak bereliling. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi, tersebut yang dimana warga percaya barang-barang tersebut merupakan berkah bagi mereka. 


Terlepas dari keramaian dan upaya pelestarian budaya warga setempat. Kegiatan ider-ideran diakui warga kerap menyisakan kesan negatif. Jalannya ider-ideran menurut salah seorang tokoh pemuda sekaligus Ketua Ikatan Pemuda Nahdatul Ulama Kabupaten Cirebon, Ahmad Imam Baehaqi menjadi kurang khidmat akibat ketidaktertiban penonton.


Dirinya mengkritisi konten yang disajikan para peserta ider-ideran yang terkadang tidak mencerminkan nilai kesopanan, keramahan dan kearifan lokal. “Padahal seharusnya kita tetap harus menjunjung nilai-nilai luhur tradisi ini. Jadinya lama-lama terkesan sekedar seremonial saja, untuk hiburan saja,” katanya.


Lebih dari itu, seusai ider-ideran usai, ruas jalan yang dilalui para peserta dipenuhi sampah plastik dan kertas akibat perilaku membuang sampah sembarangan dari warga yang menyaksikan tradisi tersebut. Selain itu, sebagian pagar di antara dua lajur ruas jalan Trusmi menjadi rusak bahkan rubuh ke badan jalan. 


Ironisnya, kondisi itu diakui warga memang selalu terjadi seusai acara ider-ideran dari tahun ke tahun. “seharusnya untuk kedepan agar pelaksanaan tradisi tersebut berlansung aman dan tertib tanpa harus merusak fasilitas umum lainnya,” tandasnya. (cas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!