Menag Sebut Usia 15-24 Rentan Terpapar Radikalisme

Menag Sebut Usia 15-24 Rentan Terpapar Radikalisme

RAKYATCIREBON.ID – Rumah Moderasi Beragama (RMB) IAIN Syekh Nurjati bekerjasama dengan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah (FUAD) IAIN Syekh Nurjati menggelar International Online Seminar for Moderation in Islam Seri I.

Kegiatan tersebut mengangkat tema tentang Moderation Perspectitve in Understanding the Religious Texts and Social Practices. Webinar yang disertai dengan Peluncuran Rumah Moderasi Beragama (RMB) IAIN Syekh Nurjati tersebut diikuti oleh lebih kurang seribu peserta dari dalam dan luar negeri.

Menteri Agama RI, Jend (Purn) Ir H Fachrul Razi menguraikan bahwa Inisiasi lahirnya konsep teoretis hingga praksis moderasi beragama yang digagas oleh Kementerian Agama menjadi kebutuhan yang mendesak. Beberapa kajian dan penelitian menunjukkan data yang signifikan mengenai kecenderungan ekspresi keberagamaan yang sempit dan ekslusif.

Menteri Agama mengilustrasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2018 di 18 kota dan kabupaten di Indonesia menunjukkan bahwa ancaman radikalisme-ekstremisme di kalangan kaum muda berusia 15-24 sangat mengkhawatirkan. Meskipun sikap moderat masih cukup mewarnai.

Hal ini dikuatkan oleh paparan Rektor IAIN Syekh Nurjati, Dr Sumanta Hasyim MAg dalam sambutan pembukanya yang mengingatkan bahwa tren konservatisme dengan ciri scriptural plus komunal juga menguat.

Menurutnya, fakta lapangan menunjukkan bahwa pola tersebut muncul saat kaum muda menggunakan dalil Alquran dan hadis dengan pemahaman yang literal. Namun pada saat yang bersamaan tidak diikuti dengan kontekstualisasi makna teks sesuai dengan sebab munculnya ayat atau hadis tersebut.

“Sehingga RMB IAIN Syekh Nurjati mengambil peran untuk turut serta mengurai problematika keagamaan di Indonesia, melalui pengkajian, penelitian dan pendampingan kepada masyarakat secara intensif,” ungkap Sumanta.

Dalam Seminar Internasional via aplikasi Zoom tersebut, RMB IAIN Syekh Nurjati menghadirkan empat narasumber, antara lain: Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI Periode 201-1019; Penggagas Moderasi Beragama), Adis Duderija (Senior Lecturer in the Study of Islam and Society, Griffith University, Australia), Mohammad Sobri (BPIP RI) dan Alissa Qotrunnada Wahid (Kordinator Nasional Gusdurian).

Dalam uraianya, Lukman Hakim Saifuddin sebagai salah satu narasumber menguraikan bahwa kondisi faktual keberagamaan kita saat ini berada pada dua titik ekstrem, sehingga perlu ada pemahaman dan upaya untuk memoderasi cara beragamanya, bukan agamanya.

Menteri Agama Periode 2014-2019 tersebut juga mengutip data penelitian yang dilakukan oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. tentang literatur keislaman Generasi milenial, hasilnya menunjukkan bahwa generasi milenial sangat memiliki minat untuk untuk melakukan akses terhadap literatur keagamaan.

“Letak masalahnya adalah pada pilihan topik, di mana jihad dan khilafah paling banyak diminati. Sehingga pemahaman agama dengan cinta dan kasih sayang harus ditanamkan pada setiap generasi muslim,” Lukman.

Hal ini dikuatkan dengan narasi yang disampaikan oleh Adis Dudireja tentang perlunya filtrasi paham dan ekspresi keberagamaan dengan cinta dan wawasan yang baik. Sehingga generasi muslim tidak terjebak dalam pemahaman keagamaan yang ekslusif dan ekstrem.

Lebih lanjut menurut Mohammad Sobri, Indonesia sesungguhnya memiliki perangkat yang ideal untuk mewujudkan kehidupan keberagamaan yang tengah-tengah, yaitu dengan Pancasila.

Menurutnya, Pancasila sangat relevan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi muslim sekaligus bagian dari warga negara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Menutup sesi diskusi, Alissa Wahid yang merupakan Putri dari Almarhum Gus Dur menekankan pentingnya pengarusutamaan moderasi beragama di Indonesia. Melalui Komitmen kebangsaan, Toleransi antar kelompok, Anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi dan adat istiadat.

Signifikansi pengarusutamaan ini paling tidak dilandasi oleh tiga alasan. Pertama, kehadiran agama untuk menjaga martabat manusia dengan pesan utama rahmah (kasih-sayang). Kedua, pemikiran keagamaan bersifat historis, sementara realitas terus bergerak secara dinamis. Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dirawat melalui strategi kebudayaan.

Dr Faqihudin Abdul Kadir, dosen senior IAIN Syekh Nurjati mempertegas bahwa perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial sangat penting untuk dilakukan.

Bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan ini bukan hanya menjadi standar operasional dalam kajian tetapi juga merasuk  dan membudaya dalam kehidupan praksis sosial.

“Tantangan lain yang lebih nyata adalah bagaimana perspektif moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan praksis sosial ini menjadi life style bagi kalangan milenial yang tengah lelap dengan pola kehidupan disruptif,” kata dia. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!