Menelisik Pergerakan PKI di Cirebon Pemberontakan Pecah sebelum Madiun

7
PERGERAKAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kota Cirebon sebenarnya sudah mulai sekitar 12 Februari 1946, sebelum terjadi peristiwa pemberontakan di Madiun tahun 1948. Disampaikan Budayawan Cirebon Nurdin M Noer, catatan sejarah yang tertuang dalam Kalender Peristiwa Sejarah TNI mengisahkan, pada tanggal 7 November 1945 lahir PKI di Cirebon, di bawah pimpinan Mohamad Joesoef dan Suprapto.

partai komunis indonesia
PKI.Image.wikipedia.org

Pemunculan PKI pimpinan Mohamad Joesoep ke permukaan dinyatakan ilegal, karena tidak disetujui oleh kelompok lain. Menurutnya, kondisi sosial politik di Cirebon pada awal revolusi tidak stabil. Hal ini terjadi karena adanya pertentangan antara golongan moderat dengan golongan revolusioner mengenai cara untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan.

“Situasi yang demikian dimanfaatkan oleh PKI untuk menguasai kondisi politik dalam rangka persiapan rencana pemberontakan. PKI melalui pimpinan Joesoef berusaha menarik simpati rakyat Cirebon dan menyadari, bahwa untuk melakukan pemberontakan belum kuat,” katanya.Oleh karena itu, sambung Nurdin, didatangkanlah Laskar Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan dalih menghadiri konferensi, untuk tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat.
Data dari situs sejarah TNI mengungkapkan, pada 9 Februari 1946, rombongan PKI dan Laskar Merah dari luar daerah tiba di stasiun kereta api Cirebon.

“Mereka bersenjata lengkap dan pada 12 Februari 1946 menginap di Hotel Ribrink, yang kemudian ganti nama menjadi Grand Hotel, berlokasi persis sebelah utara alun-alun Kejaksan,” ungkapnya.Dikatakan pria berkacamata ini, PKI menyebarkan isu bahwa Polisi Tentara telah melucuti anggota Laskar Merah yang baru datang dari Jawa Tengah di Stasiun Cirebon.

“Polisi Tentara Cirebon Letda D Sudarsono datang ke stasiun menemui seorang bintara jaga untuk memastikan kebenaran isu tersebut,” ujarnya.Namun sesampainya di stasiun, masih kata Nurdin, Letda D Sedarsono disambut dengan tembakan-tembakan. “Ia dikepung oleh pasukan Laskar Merah yang akhirnya ditawan dan dibawa ke Markas Polisi Tentara Kabupaten di Hotel Phoenix (lokasinya di samping utara Hotel Prima di Jalan Siliwangi). Selanjutnya, dalam upaya PKI menguasai pemerintahan, kekuatan bersenjata di Cirebon dilucuti, tentara ditangkap dan dijadikan tawanan,” tuturnya.

Saat itu, sebut Nurdin, seluruh kota dikuasai oleh Laskar Merah. “Tindakan-tindakannya semakin brutal, merampok dan menguasai gedung-gedung vital. Untuk mengatasi aksi-aksi PKI ini, Panglima II/Sunan Gunung Jati, Kolonel Zainal Asikin Yudadibrata segera mengambil tindakan. Ia mengirim utusan untuk berunding dengan Mohamad Joesoef di Hotel Ribrink,” katanya.Pihak PKI dalam perundingan ini berjanji akan menyerahkan senjata-senjata hasil rampasan esok harinya, tetapi janji ini tidak ditepati.

Karena perundingan gagal, Panglima Divisi II meminta bantuan pasukan dari Komandan Resimen Cikampek untuk dikirim ke Cirebon, maka dikirim 600 prajurit Banteng Taruna dipimpin Mayor Banuhadi. “Akhirnya tanggal 13 Februari  1946 dilakukan penyerbuan yang pertama oleh pasukan gabungan dari TRI (Polisi Tentara Indonesia, red),” katanya.

Polisi Tentara dan pasukan lain untuk merebut pos-pos pertahanan PKI dan markas pemberontakan di Hotel Ribrink. Penyerbuan yang pertama ini gagal, karena persenjataan di pihak TRI dan kawan-kawan kurang. Sedangkan senjata musuh lengkap.Pada 14 Februari 1946, dilakukan penyerbuan yang kedua kali yang dipimpin langsung oleh Komandan Resimen Cikampek, Kolonel Moefreini Moekmin.

Hasilnya, mereka berhasil melumpuhkan lawan, sehingga pasukan PKI menyerah. “Pimpinan pemberontak, Mohamad Joesoef dan Suprapto berhasil ditangkap, kemudian diajukan ke pangadilan tentara,” katanya. (nurul fajri)

BAGIKAN