Mengenal Nasi Qodiron Warisan Sunan Gunung Jati, Hidangan Kuliner Keraton Kanoman

Mengenal Nasi Qodiron Warisan Sunan Gunung Jati, Hidangan Kuliner Keraton Kanoman

RAKYATCIREBON.ID-Malam Jumat sering diidentikkan dengan hal-hal mistik atau horor, khususnya di Indonesia.

Entah mengapa, namun begitulah anggapan masyarakat Indonesia sejak dulu.

Di Keraton Kanoman Cirebon, pada malam itu justru yang muncul nuansa kuliner. Aroma harum dan rasa yang lezat menjadi salah satu ciri dari kuliner dalem Keraton Kanoman Cirebon bernama Nasi Qodiran.

Nasi Qodiran merupakan salah satu makanan dalam Keraton Kanoman Cirebon. Nasi ini biasanya disajikan setiap satu bulan sekali yakni pada malam Jumat Kliwon.

“Setiap malam Jumat kliwon di internal keluarga keraton makan nasi Qodiran,” tutur Patih Keraton Kanoman Cirebon Pangeran Raja Mochammad Qodiran, Minggu (7/11/2020).

Patih Qodiran menjelaskan, penyajian Nasi Qodiran setiap malam Jumat Kliwon karena merupakan hari terbaik dari hari baik lainnya.

Nasi Qodiron ini merupakan warisan kuliner yang diwariskan secara turun temurun dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kepada para sultan di Cirebon dan sampai sekarang masih dilestarikan.

“Nasi Qodiran dibungkus daun pisang karena waktu itu belum ada piring. Yang beri nama Nasi Qodiran adalah Syekh Syarif Hidayatullah. Saat itu tiap malam Jumat Kliwon dilakukan Tawasulan kepada Syekh Abdul Qodir Zaelani,” ujar Patih Qodiran.

Paduan kunyit, bawang merah, bawang putih, kacang tanah, ketumbar, tempe, ikan teri atau rebon, nasi, daging, paru, kelapa parut telur dadar, udang kecil dibungkus daun pisang membuat aroma kuliner dalam keraton ini harum dan lezat.

Ia mengatakan, memakan Nasi Qodiron lebih hangat disandingkan dengan minuman Bajigur. Patih Qodiran menuturkan, hingga saat ini, Keraton Kanoman masih menjaga tradisi.

Untuk nuansa penyajian Nasi Qodiron menggunakan pencahayaan yang terbuat dari minyak kelapa yang diberi sumbu lawe (delepak). Biasanya juru masak Sega Qodiron adalah masih family atau keluarga besar itu sendiri.

“Proses pembuatannya sekitar dua sampai tiga jam,” kata dia.

Rencananya, salah satu kuliner dalem Keraton Kanoman ini akan dikenalkan kepada semua kalangan masyarakat.

“Ini adalah kekayaan dari kasultanan Cirebon. Kami akan coba untuk publikasikan ke masyarakat luas agar bisa mencicipi nasi ini,” tutur Patih Qodiran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!