Mengenang Ibunda Jokowi, Sudjiatmi Notomihardjo

70
Sudjiatmi Notomihardjo

SUDJIATMI lahir pada 15 Februari 1943 di Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Ia anak dari pasangan Wirorejo dan Sani yang sehari-hari berdagang kayu, usaha yang nantinya juga ditekuni Sudjiatmi dan suaminya. Jokowi pun dikenal sebagai pengusaha kayu atau mebel sebelum terjun ke politik.

Wawan Mas’udi & Akhmad Ramdhoni dalam Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana (2018) memaparkan, Sudjiatmi menikah dengan Widjiatno Notomihardjo pada 1959. Pasangan ini lalu pindah dari Boyolali ke Srambatan, Solo bagian utara. Tanggal 21 Juni 1961, lahirlah anak pertama mereka, Joko Widodo.

Sudjiatmi dan suaminya memang orang biasa yang bahkan pernah mengalami kehidupan sulit. Keluarga ini beberapa kali pindah rumah, termasuk pernah tinggal di permukiman kumuh di bantaran kali.

Meski pernah mengalami masa sulit, pasangan Notomiharjo dan Sudjiatmi menyekolahkan Jokowi hingga ke perguruan tinggi, hingga sang putra merintis usaha mebel dan bisa memperbaiki taraf kesejahteraan keluarga.

Hingga akhirnya, Jokowi terjun ke politik dan menjalani karier yang sukses, dari Wali Kota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta, sampai terpilih menjadi Presiden RI ke-7 pada 2014.

Berkiprah di politik memantik konsekuensi bagi Jokowi, juga keluarganya termasuk sang ibunda. Kritik, caci-maki, hingga tuduhan tak berdasar seringkali menyerang keluarga Jokowi. Jokowi bahkan pernah diisukan sebagai anak PKI, Cina, Kristen dan tudingan-tudingan sesat lainnya.

Sudjiatmi, dinukil dari buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014) karya Kristin Samah dan Francisca Ria Susanti, pernah didatangi sejumlah ulama terkait tudingan anaknya bukan orang Islam. Ia terkejut, namun tetap tenang dan menjawab apa adanya bahwa berbagai serangan itu tidak benar.

“Saya biasa saja. Saya ditanya teman-teman. ‘Sakit Bu?’ ‘enggak, biarin.’ Orang mau ngomong apa saja, yang penting Jokowi ndak [seperti] itu, ndak [seperti] yang dituduh-tuduhkan,” ucapnya, 24 Desember 2018. 

Ibunda Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo, meninggal dunia di RST Slamet Riyadi, Solo, pada Rabu (25/3/2020) pukul 16.45 WIB, akibat penyakit kanker yang dideritanya selama ini.

Sejumlah pejabat pemerintah terlihat melayat ke rumah duka, salah satunya adalah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Khofifah mengatakan, saat melayat di rumah duka itu, ia sempat menanyakan terkait wasiat apa saja yang disampaikan almarhum kepada beberapa putrinya.

“Saya tanya apa wasiatnya beliau. Yang pertama adalah beliau sampaikan putra-putri beliau melanjutkan silaturahim dengan teman-teman almarhumah. Kemudian yang kedua beliau pesan supaya kalau ada sisa rezeki beliau untuk diwakafkan di masjid,” ungkap Khofifah, Kamis (26/3/2020).

Selain wasiat itu, ia juga mendapatkan kabar bahwa almarhumah sebelum meninggal sempat melaksanakan shalat dzuhur sekitar pukul 14.00 WIB.

Bahkan usai shalat dzuhur itu, almarhumah juga sempat menanyakan kepada anaknya apakah sudah waktunya shalat ashar.

“Kemarin siang rupanya beliau selesai shalat dzuhur jam 2, katanya beliau tanya apa sudah ashar. Karena beliau mau segera shalat ashar,” ungkapnya.

Khofifah mengaku sudah mengenal sosok Sujiatmi sejak sebelum Jokowi menjadi presiden. Menurut dia, almarhumah selama hidup sangat taat beribadah.

Selain rajin mengikuti pengajian, almarhumah tak pernah melewatkan untuk melaksanakan shalat subuh, maghrib, dan isya berjemaah di dalam masjid. (*)